Kisah Mutan 1
Dear Bloggy…
Sejak kapan ya mutan-mutan mulai muncul di Indonesia, tak ada catatan yang pasti. Mungkin bersamaan dengan munculnya mutan-mutan di negara-negara lain. Di Indonesia, ketika “orang-orang aneh” tersebut mulai muncul dan marak menghiasi media cetak dan televisi, banyak pendapat yang berkembang. Ada yang bilang itu karena kutukan, sihir, titisan orang hebat di masa lampau, dan lain-lain. Beberapa sudah ada yang bilang itu karena terjadi mutasi gen pada beberapa orang, tapi pendapat tersebut kurang bisa berkembang, susah menjelaskan bagaimana prosesnya mutasi gen kok bisa jadi seperti itu.
Prof. Charles Xafier di Amerika telah mendirikan sekolah khusus untuk orang-orang berkemampuan khusus dan membentuk grup X-Men. Semenjak itu, salah satu manusia mutan dari Malang, Indonesia, yaitu Si Butut (kependekan dari Si Rambut Maut) jadi ikut-ikutan juga membuat sekolah dan mendirikan Organisasi Manusia Mutan Indonesia. Sekolah dan organisasi ini bertujuan untuk menampung anak-anak berkemampuan khusus, dan mengajarkan mereka supaya menggunakan kemampuannya untuk kebaikan saja. Mereka juga berusaha supaya bisa hidup berdampingan dengan manusia lain secara damai.
Dan sekarang ia berhasil mengumpulkan beberapa mutan, terutama yang berasal dari keluarga tidak mampu. Yah…maklumlah, soalnya ia sendiri juga tak punya banyak dana. Jadi ketika beberapa mutan ditawari untuk masuk ke sekolah khusus ini, mereka banyak yang menolak, soalnya tak ada gedung yang megah dengan segala fasilitasnya, cuma ada gubuk-gubuk bambu di pinggir kebun, dengan kali yang bening mengalir. Yah mau gimana lagi. Bukankah tanah dan kebun itu sudah banyak memakan dana. Dana dari pemerintah…mimpi kali ye! Lha wong dana pendidikan yang biasa saja masih sering dikorupsi, gimana pemerintah bisa ngasih dana untuk sekolah yang gak biasa ini. Tapi bagaimanapun juga, sekolah ini masih bisa bertahan, dengan mengandalkan hasil dari kebun, dan dana dari beberapa donatur setia yang tak seberapa .
Sekolah khusus ini bisa berjalan dengan lancar. Yah, walaupun masih ada hal-hal di sana sini yang patut disesali. Contohnya tentang keluarnya salah satu anggota, karena gak tahan hidup di sekolah gubuk di desa, dia lalu pergi serta jadi preman di kota. Dia itu biasa dipanggil Si Macan Kumbang, karena kalau sedang mengeluarkan kekuatannya, kepalanya akan berubah seperti kepala macan kumbang, warnanya hitam dan menyeramkan. Awalnya dia dipanggil si Hitam, soalnya walaupun sedang tak menjadi manusia macan, kulitnya memang hitam legam. Tapi dia ngambek terus kalo dipanggil kayak gitu. Ya udah deh, dirubah aja.
Dan baru-baru ini, organisasi mutan pun mesti berurusan dengannya lagi. Waktu itu, ketika sedang darmawisata ke Kondang Merak, salah satu murid yang mempunyai kemampuan menerawang (memang agak absurb, dia ini paranormal apa mutan ya, tapi gak pa pa lah, dia diterima aja di sekolah manusia mutan, daripada gak bisa sekolah di tempat lain. Habisnya dia sering dikeluarkan dari sekolah, karena waktu ujian dia selalu dapat nilai sempurna, dan guru-guru akhirnya banyak yang tahu kalo ia bisa menggunakan penerawangannya untuk nyontek) mengatakan bahwa Si Macan Kumbang sedang ada di tengah lautan. Dia bersama 3 anak buahnya kelihatannya mau menyerang sebuah kapal pesiar! Waduh! Gawat tuh! Sejak kapan Si Macan Kumbang yang jadi preman di kota, beralih mejadi perampok di laut.
Akhirnya si Butut pun segera membentuk tim dadakan untuk menghentikan aksi Si Macan Kumbang. Dan inilah anggota-anggota timnya:
1. Joe Si Peluru Tulang
2. Dewi Geboi Si Goyang Maut
3. Si Textil
4. Rico Si Ikan Listrik
Dan tim ini dipimpin oleh Lou si Butut, alias si Rambut Maut.
Dengan bantuan Si Textil, pengendali benda-benda terbuat dari kain, karet, plastik, dan kayu, tim ini terbang mengendarai permadani, menuju kapal pesiar untuk mencegah niat jahat Si Macan Kumbang. Asyiiiik, naik permadani terbang! Si Ikan Listrik pun ogah berenang, sesekali dia ingin terbang juga dong.
Sementara itu, di kapal pesiar, Si Macan Kumbang telah melumpuhkan semua penjaga. Para penumpang diikat dan dikumpulkan di satu tempat yang luas, dan mereka diminta menyerahkan semua hartanya. Tidak ada yang berani melawan, tidak ada yang mampu berbuat sesuatu. Karena Si Macan Kumbang begitu menyeramkan,juga teman-teman Si Macan Kumbang, manusia tinggi besar dan seorang monster berbentuk kelelawar yang bisa terbang.
Sebuah permadani masuk ke ruangan kabin yang luas itu. Para anggota tim keadilan kita melompat turun dari permadani. Si Butut berteriak, “Macan Kumbang! Hentikan! Atau kami tak akan ngasih ampun!”.
Macan Kumbang pun berteriak membalas, “dasar Butut yang miskin dan butut! Jangan ikut campur urusan kami ha! Ini bukan urusan kalian, tahu!”
Para anggota tim si Butut pun bersiap-siap menyerang. Tapi tiba-tiba Manusia Kelelawar terbang maju ke depan para anggota tim Si Butut, dan membuka mulutnya lebar-lebar sambil mengeluarkan gelombang suara yang sangat dahsyat.
Tiba-tiba Manusia Kelelawar melesat terbang ke depan anggota si Butut dan mengeluarkan gelombang suara yang sangat dahsyat.
Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaarrrhh !!!!!
Para anggota tim terkena gelombang dan terlempar ke belakang, membentur dinding dan jendela kapal. Tidak hanya itu, gelombang itu menyakiti tubuh mereka terutama bagian dalam telinga. Si Butut dan kawan-kawannya kurang siap menghadapi serangan ini, hanya si Peluru Tulang, sambil terlempar ke belakang, ia berhasil mengarahkan tinjunya ke arah kelelawar dan menembakkan beberapa peluru tulangnya. Peluru-peluru itu menembus gelombang dan mengenai bahu dan perut si Manusia Kelelawar beberapa kali.
Aaaaarrhhhhh!!
Kali ini si Manusia Kelelawar menjerit karena kesakitan, ia jatuh dan tumbang.
Si Macan Kumbang dan rekannya yang bertubuh besar segera maju. Kecepatan Macan Kumbang benar-benar luar biasa. Ia langsung mencengkeram kepala Joe Si Peluru Tulang dan menghantamkan lututnya ke kepala Joe. Joe yang masih lemah terkena gelombang manusia kelelawar tak bisa berbuat apa-apa. Ia telak terkena tendangan lutut Macan Kumbang. Dalam sekian detik si Macan Kumbang langsung lanjutkan serangannya ke arah Dewi Geboi. Untung Dewi Geboi cepat tanggap, walaupun ia masih lemah karena terkena gelombang suara manusia kelelawar, ia menahan sakitnya dan melompat ke atas, menghindari serangan Macan Kumbang. Dewi Geboi memantulkan dirinya ke langit-langit, setelah itu tubuhnya melesat ke arah kepala Macan Kumbang. Tapi Macan Kumbang mempunyai reflek yang sangat bagus, ia menggeser tubuhnya menghindari benturan Dewi Geboi, dan langsung mencengkeram tubuh Dewi Geboi serta menggigit lehernya. Dewi Geboi berteriak kesakitan.
Rupanya Macan Kumbang lupa, Dewi Geboi mempunyai jurus goyang maut. Dewi Geboi mencengkeram kepala Macan Kumbang, lalu dia berputar bergoyang dangdut dengan kecepatan luar biasa. Macan Kumbang terputar dan tergoyang-goyang seperti koboy maen rodeo yang tergoyang-goyang oleh banteng liar, tapi kali ini putarannya jauh lebih cepat. Dia tak bisa melepaskan diri karena kepalanya tercengkeram erat oleh Dewi Geboi. Pusing deh dia.
Sementara itu di saat yang bersamaan, manusia tinggi besar menyerang si Butut dan si ikan listrik. Rupanya dia bisa merubah ukuran bagian tubuhnya sesuka hatinya. Ia membuat tangannya jadi besar sehingga satu tangannya dapat menggenggam si Textil dan si ikan listrik sekaligus, sedangkan tangan yang satunya menggenggam si Butut. Diremasnya mereka.
Rico si Ikan Listrik sebenarnya bisa saja menyetrum manusia besar itu, tapi si Textil pasti juga akan terkena setrumannya.
Aaaarrhh..
Yang berteriak adalah manusia besar itu. Rupanya rambut si Butut masih tergerai, sehingga masih bisa menyerang. Ia menusuk-nusuk kedua tangan manusia besar itu dengan rambut mautnya . Manusia besar yang tak diketahui namanya itu makin mempererat genggamannya, namun dia akhirnya tak tahan dengan tusukan rambut si Butut, dan mengendorkan genggamannya. Tangannya berdarah-darah.
Si Textil dan si Butut melepaskan dirinya. Rico si ikan listrik memeluk pergelangan tangan manusia besar, lalu mengeluarkan setrumnya. Zzzzrrrrttttt !!!! Manusia besar itu kejang-kejang terkena sengatan listrik. Ia tumbang seketika.
Macan Kumbang masih terputar-putar dan tergoyang-goyang oleh Dewi Geboi si Goyang Maut. Keliatannya dia sangat tersiksa. Kalau manusia biasa pasti akan mati muntah darah terkena goyangan maut si Dewi Geboi. Tapi daya tahan macan kumbang sangat luar biasa. Selain tetap bisa menggigit, dia juga masih mampu mencakar-cakar tubuh Dewi Geboi. Dewi Geboi jadi lemah. Goyangannya melambat, dan ia pun lemas, terjatuh dan tak sadarkan diri. Macan Kumbang lepas dari Dewi Geboi, tapi ia masih terhuyung-huyung karena pusing. Si Textil yang baru saja lepas dari genggaman manusia besar segera menyearang Macan Kumbang. Ia mengendalikan baju yang dikenakan si Macan Kumbang, melemparnya ke atas. Tubuh si Macan Kumbang tentu saja turut terlempar dan membentur atap. Brukk!! Macan Kumbang segera merobek-robek bajunya sendiri. Ia jadi tak berbaju. Tapi celananya masih ada, sehingga si Textil masih bisa mengendalikan Macan Kumbang. Ia melempar Macan Kumbang sekali lagi ke arah samping dan mengenai dinding kapal. Bruaaakk!!! Macan Kumbang segera merobek-robek celananya dengan cakarnya, termasuk celana dalamnya. OMG! macan kumbang telanjang!! Tapi ia jadi lepas dari kendali si Textil, dan hendak menyerang si Textil.
Untunglah ada si Butut. Si Butut segera membelit tubuh Macan Kumbang dengan rambutnya yang memanjang. Macan Kumbang tak jadi telanjang deh, karena tubuhnya tertutupi belitan rambut. Tapi dia tak bisa bergerak. Macan Kumbang hanya bisa meraung-raung.
“Grrrrrr…aaaarrrrhhh! Aro..!! Ke sini kau!! Tolong kami!!” Teriak si Macan Kumbang.
Tiba-tiba dari pintu masuk muncul seseorang yang pendek dan gendut. Dia kelihatan terkejut melihat apa yang terjadi.
“Lumpuhkan mereka!!” Si Macan Kumbang berteriak lagi.
Si pendek gendut yang dipanggil Aro tadi segera membalikkan badan, lalu njengking, dan…duuuutttttt! Owww! Dia kentut! Suaranya begitu keras, dan baunya…alamak!!
Aroma gas kentut yang sangat keras itu melumpuhkan semua orang, termasuk si Butut, Macan Kumbang, dan yang lainnya. Mereka jadi tak bisa mengeluarkan kekuatannya. Para penumpang yang dari tadi terikat dan hanya bisa menonton pun juga langsung pingsan terkena kentut maut si pendek gendut tadi. Kecuali si pendek gendut itu sendiri, dengan tenang ia berkata, “ha ha ha! Gue sih emang gak bisa berkelahi, tapi selama ini tak ada yang bisa mengalahkan bau kentut beracun gue, ha ha ha ha!”
Macan Kumbang, dengan lirih dan lemah akibat bau kentut itu, berkata, “kau taruh aku dan teman-teman kita ke perahu, lalu bawa harta rampasan kita, dan kita pergi dari sini!”
“Beres bos!” Kata si pendek gendut itu sambil masih terkekeh-kekeh.
Tapi tiba-tiba…Dung!
Sebuah tabung pemadam kebakaran membentur kepala belakang si pendek gendut. Ia limbung, matanya berputar-putar, lalu ia jatuh dan pingsan.
Dari balik pintu, seorang cewek memegang tali laso. Ia melemparkannya ke si Butut yang tengkurap dan lemah.
“Talikan tali ini ke tanganmu!” Seru cewek tadi.
Dengan perlahan, si Butut berusaha menalikan tali laso itu ke pergelangan tangannya. Lalu cewek tadi menarik si Butut keluar dari ruangan yang dipenuhi gas kentut beracun dari orang pendek gendut tadi.
Di luar ruangan, si Butut menghirup udara segar. Kekuatannya perlahan-lahan pulih. Lalu dengan rambutnya ia menyeret anggota-anggota tim keluar dari ruangan yang masih tetap dipenuhi gas beracun itu, supaya mendapat udara segar. Rupanya gas beracun yang dikeluarkan oleh orang pendek gendut tadi bisa bertahan lama di suatu ruangan. Luar biasa. Manusia Mutan jenis apa ini?
“Terima kasih atas bantuannya, nona,” kata si Butut pada cewek tadi. “Siapa anda? Kenapa bisa ada di sini?”
“Aku salah satu penumpang di sini. Waktu kapal ini diserang, untungnya aku bisa menyembunyikan diri di suatu tempat di ruang kemudi.” Jawab si cewek yang cantik itu. ” Aku tak berani keluar, karena salah satu anggota penyerang itu, yaitu si pendek gendut, tetap tinggal di ruang kemudi, dan ia merubah arah kapal ini jauh dari tujuan kami semula.”
Setelah mendapat udara segar, kekuatan si Textil, Joe, dan Rico mulai pulih.Si Butut segera memerintahkan si Textil untuk membuat permadani terbang lagi. Lalu dengan permadani terbang tersebut, Macan Kumbang serta rekan-rekannya yang masih lumpuh akan diangkut ke pulau Nusa Kambangan. Di sana ada penjara khusus mutan yang canggih.
Sementara Joe si Peluru Tulang, ia akan tinggal untuk sementara, dan akan mendaratkan kapal ini ke daratan. Sedangkan Rico si Ikan Listrik bertugas membawa Dewi Geboi yang masih tak sadarkan diri karena lukanya yang sangat parah kembali ke rumah, supaya bisa dirawat dan disembuhkan. Dengan perahu kecil yang ada di kapal pesiar itu, Rico segera membawa Dewi Geboi pergi .
“Kita harus cepat dan segera memenjarakan mereka, sebelum mereka sadar kembali.” Kata si Butut kepada si Textil.
Dengan permadani terbang, Si Textil ditemani si Butut pun melesat terbang membawa kawanan Macan Kumbang itu ke penjara khusus mutan di Nusa Kambangan. Cewek cantik yang telah menjadi penyelamat itu memandang kepergian si Butut dan Si Textil sambil tersenyum…
Kenapa cewek cantik itu tersenyum? Tunggu kisah selanjutnya…
——-bersambung

August 2, 2007 at 2:32 pm
ahahahahahahahaha..
gile juga ni kemampuan ngarangnya. gw mpe ngakak bacanya. hihihihi
December 5, 2007 at 6:09 am
wow…
semangat sekali kisah mutannya. salut bot. kalau sudah kelar semua, tolong aku dikasih ya di green_stranger@yahoo.com
well, well, well, arek pasuruan muride pak mukhid ternyata onok sing dahsyat rek. btw, salam tekan wong krembung, sidoarjo,
salam,
si pemimpi
May 4, 2008 at 10:04 am
Wah siapa itu wahai pemimpi kok namaku disebut2?
November 21, 2009 at 10:09 am
Heemm…
August 6, 2011 at 12:01 am
Blum smpat slse m’bca, wktu sudah menyuruhQ b’hnti bca dulu.
Klo dah ad wktu lg aQ mao bca lnjtnny, cz crtany menarik.
aQ adminny http://iniditudini.student.umm.ac.id
Tp, aQ pke blog utamaQ nii.
August 6, 2011 at 12:02 am
Blum smpat slse m’bca, wktu sudah menyuruhQ b’hnti bca dulu.
Klo dah ad wktu lg aQ mao bca lnjtnny, cz crtany menarik.
aQ adminny http://iniditudini.student.umm.ac.id
Tp, aQ pke blog utamaQ nii.