Kisah Mutan no 2

…sambungan dari Kisah Mutan 1

(dr buku harian Dewi Geboi)

Dear Bloggy…
Sepi..sunyi sekali malam ini. Semua orang telah kembali ke kamarnya masing2. Membiarkan aku sendiri, supaya aku bisa istirahat dengan tenang…Tapi, sejak bangun dari pingsanku tadi, aku tak bisa menutup mataku lagi…

Tadi siang aku berkelahi dengan Macan Kumbang. Ia menggigit, mencakarku, membuatku pingsan. Dan tiba2 saja aku telah bangun di kamarku sendiri, dengan perban yang membelit di leher, badan, dan lenganku. Masih terasa sedikit nyeri.

Tapi aku yakin aku akan baik2 saja. Tapi…bagaimana denganmu, Macan Kumbang?

Aku tak mau berkelahi denganmu lagi, Macan Kumbang. Bukan aku takut, cuman…aku tak mau kita saling menyakiti lagi. Kenapa kamu bisa begitu tega? Sedangkan aku sendiri..dadaku terasa sakit tiap kali aku menyerangmu. Kita dulu adalah teman, dan aku ingin kita tetap berteman. Tapi aku tak punya pilihan…kau..tak memberiku pilihan…kau telah keterlaluan, menggunakan kekuatanmu untuk berbuat kejahatan.

Masih ingat ketika dulu kita bertemu…waktu itu aku yang lari dari rumah, tak tahu harus kemana, dan tak tahu harus makan apa..masih sambil mengenakan baju seragam smp, aku mengemis di jalanan, di lampu merah. Dan sialnya, tak ada seorang pun yang mau memberiku uang. Mungkin mereka tak percaya ada anak gendut bisa jadi pengemis. Aku jadi sungguh2 kelaparan, mataku sampai ber kunang2, perutku sakit, kepalaku pening, dan akhirnya aku hanya mampu duduk di trotoar, menangis, mengharap belas kasihan, hingga malam datang, dan tak ada seorang pun yang lewat. Aku berbaring, sesenggukan, tapi mataku tak mampu mengeluarkan air mata lagi. Dan tiba-tiba, kau…seorang anak yang sangat hitam…kau tiba2 berjongkok di depanku dan menyodorkan sepotong semangka…

Setelah itu kita pun menjadi teman. Kau mengajariku bagaimana bertahan hidup di kota besar. Kau mengajariku mencopet. Kau juga mengajariku bagaimana menembak dengan sumpit, menembak ke arah roda mobil yang melaju di jalan hingga bannya kempes. Dan ketika mobil berhenti, kita pura2 tak sengaja lewat, lalu menolong pemilik mobil mendorong mobil ke tepi, dan membetulkan ban mobilnya yang tiba2 meletus itu. Setelah itu pemilik mobil biasanya mengasih uang sekedar tanda jasa. Tak perlu kawatir, mereka sudah kaya dan banyak uang, begitu katamu, ketika aku mengatakan bahwa itu perbuatan yang tidak baik. Kuakui kamu cukup pintar. Kamu sering ber-ganti2 lokasi ketika melakukan aksi itu, sehingga tak pernah ketahuan, dan kau kelihatannya tahu mana mobil yang cocok jadi sasaran. Kumasih ingat ketika kamu terkejut, sekaligus senang, ketika kau melihat aku dapat menembak sebaik dirimu. Katamu, menembak dengan sumpit itu sangat susah, sebelumnya tak ada seorang pun yang mempunyai tiupan sekeras dirimu. Dan aku tidak meniup sumpit itu, melainkan hanya menempelkannya ke telapak tanganku.

Aku memang bisa melontarkan benda yang menempel di beberapa bagian tubuhku, termasuk di telapak tanganku. Aku melarikan diri pun, awalnya juga karena aku tak sengaja telah melontarkan ayahku yang berusaha memukulku karena aku tak mau diam, menangis, merengek-rengek, karena ayahku telah mengambil uang tabunganku. Ayahku yang makin marah karena terbanting olehku, lalu mengambil sabuk kulitnya untuk menghajarku. Aku takut, dan lari. Aku dikejar, dan aku terus lari. Aku tak mau kembali ke rumah. Aku memang sudah tak tahan tinggal di rumah. Ayah yang selalu berjudi, dan mabuk2an, sering marah2 ke ibuku. Ibuku pun sering marah2 ke ayahku. Mereka saling berteriak, bertengkar, tanpa peduli ada aku di dekat mereka. Ibuku sebenarnya tak pernah marah kepadaku. Bahkan dia baik sekali kepadaku. Tapi aku tak tahan ketika melihat dia menyeleweng, berpacaran dengan seseorang yang katanya seorang pejabat negara. Kenapa Ibu gak cerai saja dari ayah dan hidup dengan orang itu? Katanya itu bukan urusan anak kecil. Ibu ngasih aku banyak uang, supaya aku diam, supaya tak memberi tahu kepada siapapun tentang itu. Dan sial sekali, ayah menemukan uang tabunganku, serta mengambilnya.

Dan kau..Macan Kumbang…setelah kau tahu bahwa aku mempunyai kekuatan itu…kau pun mulai mengajakku merampok. Kita telah merampok ke beberapa rumah orang kaya. Kita pun telah merampok beberapa supermarket. Kukira kita akan berhenti setelah mendapat banyak uang. Tapi nyatanya, kita tak pernah berhenti. Harta kita sepertinya cepat habis, dan kita selalu merasa kurang. Sampai suatu saat kita bertemu dengan si Butut, alias si Rambut Maut. Dia rupanya telah memperhatikan kita sejak lama, tanpa kita menyadarinya. Dan dia pun telah menjebak kita, lalu mengalahkan kita.

Aku…aku memang ingin berhenti merampok. Makanya aku setuju ketika kita ditawari untuk bertobat serta bergabung dengan organisasinya, Organisasi Manusia Mutan Indonesia. Kita diberi uang untuk tinggal di kos-kosan. Kita juga diberi pekerjaan menjadi penjual buah-buahan dan sayuran. Rupanya itu adalah tes, untuk mengetahui apa kita benar2 bertobat apa tidak. Setelah satu bulan berlalu, kau dan aku pun diajak oleh si Butut ke desa, ke markas Organisasi Manusia Mutan Indonesia, bergabung dengan sesama mutan.

Aku merasa senang tinggal di sini. Sepertinya aku telah menemukan keluarga baru. Dan kau, Macan Kumbang, rupanya kau tak puas dengan kondisi di sini. Kau masih ingin memperoleh kekayaan yang lebih dari yang kita peroleh sekarang. Memang, di sini kita tak bisa dibilang sebagai orang kaya seperti orang2 di kota, kita pun tak mempunyai banyak uang seperti sebelumnya, tapi bukankah kekayaan tidak terletak di materi saja? Kita di sini bisa hidup senang, kecukupan, tak pernah lapar, dan kita mempunyai banyak teman…bukankah ini kekayaan juga? Oh Macan Kumbang, seandainya kau mengerti itu…

Kita telah terjepit oleh siksaan yang bernama kemiskinan, dan kita pun telah terjepit oleh siksaan karena menginginkan banyak uang dengan cara instan…Di sini, di tempat ini, aku menemukan sesuatu yang lebih berharga dari sekedar harta, yaitu cinta kasih antar sesama…sungguh suatu kekayaan yang tiada ternilai harganya….

Oh…Macan Kumbang…Si Butut mengatakan bahwa kau telah ada di penjara. Bagaimana perasaanmu sekarang? Seandainya saja kau merasakan apa yang kurasakan saat ini…seandainya kau ada di sini bersama kami…

Tadi teman2 telah memindahkan TV yang ada di ruang santai ke kamarku. Lalu kami nonton TV sama2. Kami nonton acara Mamamia Superdut. Rupanya teman2 tahu kalau aku ingin menonton acara itu. Kami rame sekali tadi. Kami menjagokan orang yang berbeda. Beberapa menjagokan Fany, yang lainnya menjagokan Fatima, ada juga yang menjagokan Enci, dan beberapa cowok menjagokan Dhita karena dia cakep. Kata si Butut, Dhita mirip kayak Moon Lee, bintang film hongkong lama itu. Ha ha ha! Masak sih…

Aku sih mendukung Mindy. Dia mempunyai suara yang stabil, goyangannya alami, tidak di-buat2. Simpel, luwes, dan menjadi dirinya sendiri. Gak tahu kenapa para komentator mengatakan goyangannya mesti ditingkatkan lagi. Kalau ditingkatkan lagi, pasti jadi tambah berantakan tuh.

Komentator bilang, dangdut identik dengan goyangannya. Tapi bukankah itu tidak selalu? Memang sih orang sering menghubungkan dangdut dengan goyang, terutama goyang pinggul. Padahal..lihat saja, goyangan dangdut tak selalu harus gaya ngebor dan patah2 kan? Sebenarnya tak ada goyangan yang pakem di dangdut! Karena gak ada goyangan yang pakem, jadi bebas dong kita mau goyang gimana, bahkan bila kita gak goyang pun, boleh2 aja dong. Yah..goyang minimalis, alias cuma goyangin jempol aja pun oke. Yang penting kan terlihat asik.

Justru ketika goyangannya terlalu di-buat2, aku jadi gak senang melihatnya. Apalagi goyang ngebor inul atau goyang patah2 atau goyangnya trio macan, masak itu bisa dibilang pakemnya goyang dangdut? Perasaan, goyang semacam itu sering kulihat di video2 klip bikinan orang amerika, emang gak persis seratus persen, tapi kan mirip, dan mereka tak menyanyi lagu dangdut tuh. Bukannya aku anti dengan goyangan semacam itu loh. Bahkan aku sendiri telah membuat goyangan pinggul sebagai senjataku. Jadi aku sering melatihnya. Di sini aku cuma melihat, bahwa ketika di suatu “perfomance” goyangannya terlalu di-buat2, kelihatannya jadi gak menarik. Terkesan dipaksakan. Terkesan asal2an. Terkesan kampungan. Gak sedap diliatnya.

Dan tentang penari latar di acara2 musik dangdut…sering aku merasa tak senang melihatnya. Terutama yang cowok2, gerakan mereka kok keliatan…gimana ngomongnya ya…seperti banci aja deh…apa gak bisa bikin bentuk tarian yang lain?

Ah! Aku jadi ingat! Tadi ada anggota mutan yang baru. Namanya Reni. Mulanya aku kaget melihat wajahnya. Kok mirip dengan Ikke Nurjanah.

Dan ternyata lagi, dia adalah penolong kami, waktu siang tadi berkelahi dengan tim Macan Kumbang di kapal pesiar. Dia telah menolong kami melumpuhkan seorang mutan aneh, yang bisa mengeluarkan gas kentut beracun, dengan cara menimpuk kepalanya dengan tabung gas pemadam kebakaran.

Menurut cerita yang kudengar, ketika Joe si Peluru Tulang telah mendaratkan kapal pesiar, ia didatangi oleh si Reni. Dan si Reni minta bergabung dengan Organisasi Manusia Mutan Indonesia. Reni bilang ia sudah pernah dengar tentang organisasi ini sebelumnya. Akhirnya Joe mempertemukan si Reni dengan si Butut. Dan ketika si Butut nanya, apa kemampuan mutannya, Reni pun bilang, “baiklah, aku akan menunjukkan diriku yang sebenarnya”.

Lalu tiba2 wajahnya pun berubah, jelek, matanya besar, hidungnya pesek, sehingga si Textil yang ikut menyaksikan berseru, “wow! Dia bisa berubah menjadi nenek sihir!”

Dan dengan kesal, Reni itu berkata, “ow…aku nggak berubah jadi nenek sihir, ini wajahku yang asli…selama ini aku merubah diriku menjadi cewek cantik. Itulah kemampuan mutanku. Ketika tidur, aku tak bisa merubah wajahku, jadi aku akan kembali seperti semula.”

Orang2 pun gak bisa ngomong2 apa2 lagi setelah mendengar itu. Cuma melongo…

4 Responses to “Kisah Mutan no 2”

  1. panjang………..

  2. poetra tegoeh Says:

    Mbak, boleh dijadiin komik gak ceritanya???

  3. keren…
    mutan2 indonesia keren abis….

  4. Makasih, mas Roni..dan semuanya..kisah mutan yang ke 7 sudah terbit loh… sementara blm bisa bikin komiknya..terhalang waktu..tapi rencana itu sih ada..dan aku bkn mbak-mbak loh…laki-laki tulen nih :) ..he he he..

Leave a Reply