Archive for November, 2007

Kisah Mutan 4

Posted in kisah mutan on November 17, 2007 by Lou

Kisah Mutan 4 (sambungan dari kisah mutan 3)

…………<Masih flashback loh>……………

Si Butut telah keluar. Reni memandang Joe, si Textil, dan Dewi Geboi.

“Santai saja. Si Butut cuma malu. Udah biasa. Ia tak akan marah kok.” Kata Joe sambil tersenyum.

“Iya benar,” timpal Dewi Geboi sambil tertawa, “tadi itu lucu sekali, muka si Butut, ha ha ha..”

Tapi Reni tetap merasa tak enak. Bagaimana mereka bisa tega mempermainkan si Butut seperti itu? Bahkan seperti tak peduli, mereka mulai beryanyi karaokean lagi. Reni pun berbalik untuk mengejar si Butut.

Reni mencari si Butut, dan ia menemukan si Butut sedang duduk di batu besar di pinggir kali, sedang memandang ke bayangan bulan yang terpantul di air kali.

Reni menghampiri si Butut. Lalu ia berkata, “maafkan kami si Butut. Kami cuma bercanda. Tak kusangka jadi seperti ini..”

“Gak pa pa kok,” sahut si Butut sambil tersenyum. Ia tetap memandangi bayangan bulan di kali.

“Tidak. Kami telah mempermalukanmu, maafkanlah kami”

“Aku gak malu kok.” Sahut si Butut lagi. “Siapa bilang aku malu. Aku hanya sedih. Bukan karena itu kok, tapi karena hal yang lain.”

“Karena hal yang lain?” Reni jadi heran. “Maksudmu?”

“Yah..kita tadi telah menyanyi. Lagu-lagu Indonesia memang enak-enak. Kayaknya, sejak dulu orang Indonesia memang pintar bikin lagu yah. Walaupun ada juga yang masih nakal menjiplak lagu orang lain.”

Reni jadi bertambah heran, si Butut ngomong apa sih?

“Kamu sedih karena banyak orang menjiplak lagu?” Tanya Reni kemudian.

“Ehm..yah..banyak orang menjiplak lagu, dan itu menyedihkan..tapi..bukan itu saja maksudku..”

“Lalu apa maksudmu..?”

“Kau tahu kan, negara kita ini negara yang sangat kaya. Kita mempunyai kekayaan budaya yang sangat berlimpah. Dalam bidang musik, orang-orang Indonesia sejak dulu pandai menciptakan lagu. Kau tahu kan, lagu-lagu rakyat Indonesia? Sampai sekarang pun masih enak dinyanyikan. Dari dulu sampai sekarang, lagu-lagu Indonesia sangat membanggakan. baik itu lagu rakyat, lagu lama, apalagi lagu-lagu yang baru.”

Reni masih tak jelas arah pembicaraan si Butut. Tapi dia diam saja mendengar si Butut berbicara.

“Aku tahu, orang-orang Indonesia masih ada saja yang menjilplak lagu orang lain. Musiknya ditiru, dan mengganti liriknya. Bangsa kita memang parah. Tak punya rasa malu. Tapi..”

Si Butut diam sejenak.

“Itu kan hanya segelintir orang. Masih banyak orang-orang Indonesia kita yang mampu membuat lagu orisinil dan juga bagus.” Si Butut melanjutkan. “Dan ketika kau menyanyi tadi, mendengar merdunya lagu yang kau bawakan tadi, aku jadi teringat, aku mendapat kabar tadi pagi lewat sms, bahwa lagu rakyat kita, ‘rasa sayange’, diklaim sebagi lagu rakyatnya Malaysia oleh pemerintah Malaysia. Sungguh..sungguh sangat menyedihkan!”

“ehm..benarkah itu?” Tanya Reni.

“iya. temanku dari Malaysia yang mengatakan itu lewat sms. Dia tak mungkin berbohong.”

“Oh..betapa tak tahu malu, pemerintah Malaysia yang melakukan itu?” Tanya Reni lagi.

“Iyah Reni..orang-orang kita menjiplak lagu. Tapi bukan pemerintah kan? Bahkan kalau ketahuan ada orang Indonesia menjiplak lagu, maka orang Indonesia lain akan menentangnya. Tapi ini..level pemerintah loh! Pemerintah Malaysia yang mengklaim bahwa lagu ‘rasa sayange’ adalah lagu rakyat mereka. Level pemerintah melakukan itu. Bisa kau bayangkan?”

“Mereka telah mengambil pulau kita, sekarang mereka mengambil lagu rakyat kita. Itu benar-benar bikin aku marah.” Reni jadi geram.

“Benar. Dan kemarahan itu, bisa menyulut permusuhan. Padahal mestinya antar negara tetangga kita mesti bekerja sama.”

“Apa mereka tak punya lagu rakyat sendiri? Sehingga mereka ambil lagu rakyat negara lain?”

Semua diam sejenak. Mereka memang tak pernah mendengar lagu rakyat Malaysia. Tapi masak sih tak ada? Klaim pemerintah Malaysia yang mengatakan bahwa lagu ‘Rasa Sayange’ adalah lagu rakyat mereka, malah menegaskan bahwa mereka tak punya lagu rakyat sama sekali. Jadi perlu mengambil dari negara lain.

“Itulah yang membuat aku sedih.” Si Butut berkata lagi. “Mestinya antar dua negara tetangga, terjadi kerja sama. Bukan permusuhan. Aku pun mempunyai teman-teman dari Malaysia. Mereka orang yang baik. Bila terjadi permusuhan antara dua negara, bagaimana jadinya hubungan pertemanan kami?”

Si Butut berdiri, lalu memandang ke atas, ke arah bulan. Dan ia berkata lagi,”kita mempunyai bulan yang sama. Kita hidup di bumi yang sama. Bahasa kita, hampir sama. Banyak kesamaan yang lain, dan itu mestinya bisa mempersatukan kita. Hidup bertetangga, memang kerap menimbulkan masalah. Tapi bila kita selalu seperti ini, bagaimana bisa kita menghadapi masalah yang lebih besar?”

Reni berkata, “jadi, itu yang membikin kamu sedih..kamu..tidak berpura-pura kan?”

Si Butut menghela napas. Ia sadar bahwa ia menipu dirinya sendiri. Tapi ia hanya berkata, “tolong tinggalkan aku sendiri, Reni..”

Reni diam sejenak.

“Baiklah, kuharap kau baik-baik saja?” Reni berkata lagi. Lalu membalikkan badannya, dan melangkah pergi dari situ.

Si Butut duduk lagi di atas batu. Ia menunduk. Memandang ke arah air kali yang mengalir di bawahnya. Ia menghela napasnya berkali-kali. Berbicara tentang lagu ‘rasa sayange’ tadi, agaknya menimbulkan kekhawatiran baru lagi pada dirinya. Si Butut memejamkan matanya dan berbisik, “semoga tak ada orang-orang yang akan membajakku pula..”

Bersambung ke Kisah Mutan 5

Kisah Mutan 3

Posted in kisah mutan on November 17, 2007 by Lou

Kisah Mutan ke 3

Suatu senja di bulan November, seorang perempuan menangis di depan cermin. Meratapi nasib. Memandangi bayangannya sendiri dengan geram. Ia membenci dirinya sendiri.

Kenapa? Padahal ia cantik. Bahkan kala menangis pun masih terlihat cantik. wajahnya yang basah oleh air mata, berkilau memantulkan cahaya senja. Bibirnya cemberut ke bawah, namun masih terlihat indah. Warnanya merah delima, alami tanpa gincu apa-apa. Dan hidungnya yang terukir lembut serta anggun, bersemu kemerah-merahan di sela-sela isak tangisnya..

Perlahan..ia menoleh ke arah sebuah foto 17 inci yang terpasang di dinding. Foto dirinya sendiri, sedang duduk di samping seorang lelaki..

Matanya tiba-tiba memerah penuh amarah. Tangan kirinya berkelebat dengan cepat, dan hiasan rambut berbentuk seperti jarum besar itu tiba-tiba saja telah menancap tepat di wajah lelaki pada foto tadi.

Oh, siapakah lelaki itu yang telah tega melukainya? Siapakah lelaki itu yang telah membuatnya marah? Lelaki macam manakah yang telah membanjiri wajah putih susu segarnya dengan air mata?

Perempuan itu mengacak-acak rambutnya. Rambutnya terengut, terlepas dari kepalanya. Terlepas dari kepalanya?? Terlepas dari kepalanya, sodara!! Terlepas apanya?? Eh..rambutnya terlepas??? Ooooh….!!! Tidak disangka, sodara!!! Ternyata itu adalah rambut palsu ! Ternyata kepalanya gundul !! Gundul plontos, sodara!!

Ia makin sesenggukan, tangannya memeluk erat tubuhnya sendiri, gemetar, air mata makin deras mengalir keluar dari kedua mata beningnya…

Perempuan cantik dan gundul itupun tersimpuh di lantai. Kedua tangan menutup wajahnya. Ia makin terisak, makin tenggelam dalam duka lara, makin tenggelam dalam amarahnya….seiring dengan berlalunya senja….oh, seiring dengan berlalunya senja…

………………flashback………………

beberapa waktu yang lalu…sebelum bulan agustus..

“jadi,kamu mau ikutan karnaval 17 agustus?” kata Joe si peluru tulang di sela-sela waktu santai, sore hari itu.

“yo’i” kata si Butut singkat sambil mengangguk, ia sedang memakai kostum karnaval dan memamerkan ke teman-temannya di pondok OMMI-Organisasi Manusia Mutan Indonesia.

“waow..asik tuh!” Si Chen tiba-tiba berseru, “Oy teman-teman, kita nanti nonton karnaval sama-sama ya!” Ia berseru kepada semua orang di ruangan itu.

“Loh, kenapa kita sendiri gak ikutan karnaval?” Dewi Geboi yang lagi mengunyah kripik singkong tiba-tiba berujar.

“Hmm..iya ya, gimana caranya ikutan karnaval ya?” Kata si Textil yang dari tadi sibuk menjahit kaos kaki tanpa menggunakan jarum, “Si Butut, kok bisa tiba-tiba bergabung di karnaval sih?”

Si Butut menjawab, “Yaah, aku melihat ada seseorang yang memasang pengumuman, sedang mencari beberapa orang untuk membantu bikin kendaraan hias buat karnaval. Ya..Lalu aku iseng bilang sama orang itu bahwa aku mau ikut membantu. Aku pun diwawancara. Habis itu, ternyata aku juga ditawari untuk ikutan karnavalnya. Aku mau saja dong, kan dibayar! Apalagi…” Si Butut tiba-tiba menghentikan penjelasannya.

“Apalagi apa?” kata Dewi Geboi.

“Ada deh..” si Butut hanya tersenyum simpul.
Teman-temannya jadi mengernyitkan dahi mereka karena keheranan.

“Eh, kalo kalian mau ikutan karnaval, ikutan aja! Tinggal daftar aja ke panitia karnavalnya, gak perlu bayar kok. Tapi nanti kalian mesti bikin kendaraan hias sendiri. Yang paling bagus dapat hadiah besar loh!” Si Butut mengalihkan rasa keheranan teman-temannya.

Si Chen berkata, “Ehm…kalo aku sih, mending jadi penonton aja deh, jadi bisa ambil foto-foto kendaraan karnaval, sekaligus, kalo ngeliat ada cewek yang cakep, kan bisa di ambil fotonya buat koleksi..he he he he…” si Chen tersenyum riang, hingga matanya yang sipit itu jadi keliatan seperti garis.

“Dasar lu! Coboy Maker..Cowok playboy mata keranjang!” ejek Dewi Geboi kepada si Chen.

Akhirnya, sebagian orang memutuskan untuk ikutan karnaval, dan sebagian yang lain ingin jadi penonton saja. Walaupun begitu mereka bersedia mengerjakan kendaraan hias karnaval bersama-bersama…

……..keesokan harinya..<masih flashback>….

Keesokan harinya, Dewi Geboi dan Reni pergi mendaftar untuk ikutan karnaval. Sedangkan Joe dan Si Textil pergi ke pasar membeli perlengkapan-perlengkapan karnaval. Sementara itu, yang masih tinggal di pondok Organisasi Manusia Mutan Indonesia sibuk membersihkan mobil pick up mereka untuk dijadikan kendaraan hias, ada juga yang menjahit kostum, serta merancang segala sesuatu yang akan dipertunjukkan di karnaval. Sedangkan si Butut..dia pergi…gak tau kemana…

Si Butut..pergi kemana dia?

Owala dalah! Rupanya dia sedang jalan-jalan berduaan dengan seorang cewek! Joe dan Si Textil yang sedang belanja di Matos tak sengaja melihat si Butut sedang jalan bersama seorang cewek yang sangat cakep. Suatu pemandangan yang tak pernah mereka lihat sebelumnya.

“Apa kita perlu menyapa mereka?” Tanya si Textil pada Joe si Peluru Tulang.

“Hm..Kelihatannya mereka lagi tak ingin diganggu.” Jawab Joe dengan senyum simpulnya.

“Eh, aku ada rencana!” Ia mengeluarkan sebuah kamera dari dalam sakunya, lalu memotret si Butut dan cewek di sebelahnya itu.

O’o…..rupanya Joe si peluru tulang sedang memikirkan rencana nakal buat si Butut!

……………<tetep flashback>……..

Malam itu, pukul 7 lebih sepuluh, orang-orang di pondok OMMI baru saja selesai makan malam. Mereka sekarang sedang duduk-duduk lesehan di pondok. Beristirahat setelah sepanjang hari tadi bekerja menyiapkan kendaraan hias buat karnaval.

“Eh, kita karaokean yuk!” Tiba-tiba Joe berseru.

“Ayuk! Ayuk!” Kata Dewi Geboi semangat. “Aku duluan!” Aih..Dewi Geboi pasti ingin nyanyi lagu dangdut kesukaannya tuh.

“Yoooii..ayo kita bergoyang, menyanyi, sambil nyantai-nyantai, supaya besok kita jadi semangat bekerja lagi!” Si Textil berteriak.

Sepanjang hari tadi, semua memang telah sibuk mempersiapkan segala sesuatu buat karnaval. Belum selesai. Besok pun masih akan mereka lanjutkan. Namun ajakan untuk refreshing ini disambut baik oleh semua orang.

Dewi Geboi mulai menyanyi lagu dangdutnya Rhoma Irama, judulnya “Penasaran”. Semua jadi ikutan joget. Setelah selesai, disusul dengan Joe, dia menyanyikan lagunya Project Pop. Dengan gayanya yang kaku tapi lucu, membuat semua orang di situ bersorak seru.

“siapa tdk mengakui perbedaan
tidak pernah diajari di sekolahan
semua orang macam2 diciptakan
cakep atau jelek maupun yang blasakan”

“ada orang batak, ada orang jawa
ada orang ambon, ada juga orang padang
ada orang manado, ada orang madura
ada orang papua, gak disebut jangan marah”

“apakah yang dapat menyatukan kita
salah satunya adalah dengan musik
dangdut is the music of my country”

“dangdut is the music of my country
my country oh my country
dangdut is the music of my country
my country oh my country”

“haaa haaa haaa my country”

“kalo kamu ngerti tentang persatuan
mengapa adu domba mudah dilakukan
kenapa semua mudah hilang kesabaran
kenapa semua mudah diprovokasikan”

“ada kulit hitam
ada kulit putih
ada rambut panjang
ada juga rambut putih
ada mata besar
ada mata sipit
ada orang kaya
ada juga orang miskin”

“apakah yang dapat menyatukan kita
salah satunya adalah dengan musik
dangdut is the music of my country”

“dangdut is the music of my country
my country oh my country
dangdut is the music of my country
my country oh my country”

“haaa haaa haaa my country”

“semua siap bergoyang (siaaap!)
kita bergoyang bersama yaaa (ayoo!)
setelah hitungan ketiga yaaa
one two three go!”

“apakah yang dapat menyatukan kita
salah satunya adalah dengan musik
dangdut is the music of my country”

“dangdut is the music of my country
my country oh my country
dangdut is the music of my country
my country oh my country”

“haaa haaa haaa my country”
“haaa haaa haaa my country”
“haaa haaa haaa my countryyyyyyyy…..!”

Si Chen tak mau ketinggalan. Giliran dia menyanyi. Dia menyanyi lagunya Tani Maju, yang berjudul “Castol”. Entah bagaimana mereka dapatkan versi karaokenya. Padahal lagu itu susah dicari di toko-toko. Lagu yang paling ‘nggilani’ sedunia. Tak percaya? Baca aja liriknya:

“Uwo wo wo wo
Castol (Castol),
engkau perekat (perekat)
Castol (Castol),
engkau lem yang baik (yang baik)
castol (Castol),
kau sangat berguna (berguna)
Castol (Castol),
namamu lem swie king (lem swie king)”

“Lem (lem),
artinya perekat (perekat)
swie (swie),
artinya lama (tahan lama)
king (king),
artinya raja (raja)
jadi (jadi)
raja perekat (tahan lama)”

“Castol (Castol),
kau sangat bermanfaat (bermanfaat)
Castol (Castol),
namamu kok aneh (kok aneh)
Castol (Castol),
sahabat tambal ban (tambal ban)
ban dalam (ban dalam)
maupun ban luar (luar dalam)
tubeless (tubeless),
juga melayani (melayani)
tambah angin (tambah angin),
nanti masuk angin (masuk angin)”

“mushroom (mushroom),
mas adalah kakak (kakak)
room (room),
adalah kamar (kamar kakak)”

“Castol (Castol),
kamu in the hoy (in the hoy)
Castol (Castol),
kamu hand body (hand body)
hem (hem),
artinya kemeja (kemeja)
body (body),
artinya badan (badan kemeja)”

“strong king (strong king),
strong adalah kuat (kuat)
king (king), adalah raja (raja kuat)”

“maspion (maspion),
mas adalah kakak (kakak)
spion (spion),
adalah cermin (cermin kakak)”

“cd room (cd room)
cd celana dalam (kampes)
room adalah kamar (kamar kampes)”

“freelanch (freelanch),
free adalah bebas (bebas)
line (line),
adalah angkot (bebas angkot)”

“wisklop (wisklop)
wis adalah sudah (sudah)
klop (klop),
adalah cocok (sudah cocok)”

“Castol, kau sangat berguna bagi nusa dan bangsa
Castol, juga berguna bagi malam pertama
oleskan sedikit Castol, maka sangat kuat daya gunanya
oh Castol, aku merindukanmu
oh..Castol…
oh..Cas…Toolll…”

Rame sekali malam itu. Penuh dengan tawa dan sorak sorai. Beberapa orang bergantian menyanyi, sedangkan yang lain jadi penontonnya, ikutan mengiringi.

Setelah beberapa orang telah bergantian menyanyi, tiba-tiba Joe berkata, “sebentar guys, kok aku gak pernah denger si Butut menyanyi ya? Gimana kalo sekarang kita suruh si Butut menyanyi! Setujuuu?!”

Orang-orang di situ langsung rame berteriak,
“setuujuuuuuuuuuu !”

“Butut! Nyanyi! Butut! Nyanyi!”

Sambil tersenyum kecut, Si Butut jadi terpaksa berdiri, dan Dewi Geboi menyodorkan mikrophone ke si Butut.

“Oke, oke..kali ini aku akan menyanyi nih..ehm..tapi lagunya apa ya?” Ujar si Butut.

“Eh, lagunya udah kupilihin. Nih dia, soundtracknya film Bukan Bintang Biasa,” Jawab Joe, “kamu pasti udah tahu lagunya kan?”

“ehmm…tahu kok..”kata si Butut.

“Gimana teman-teman, setuju si Butut nyanyi lagu ini?” Teriakan Joe langsung dibalas dengan sorak sorai dan tepukan semua orang,
“Seeeetuuujuuuuuuuu..!”

Musik pun mulai dimainkan..Si Butut, sambil membaca lirik lagunya di layar tv, menyanyi dengan penuh penghayatan..

“malam jadi siang
siangpun jadi malam
tidurpun ku tak bisa tenang
bila sedang jatuh cinta semua terasa indah
aku tergila-gila”

“rasa di hatiku melilit makin erat
dan rasaku tak akan salah
kuyakin ini cinta
aku sedang jatuh cinta
aku tergila-gila”

“kini…
kuberjanji hanya untuk engkau
sumpah mati akan kujalani
hatiku sedang tergila-gila
denganmu…”

“malam jadi siang
siangpun jadi malam
tidurpun ku tak bisa tenang
bila sedang jatuh cinta
semua terasa indah
aku tergila-gila”

“resah di hatiku
melilit makin erat
dan rasaku tak akan salah
kuyakin ini cinta
kusedang jatuh cinta
kutergila-gila”

“kini…
kuberjanji hanya untuk engkau
sumpah mati akan kujalani
hatiku sedang tergila-gila
denganmu…”

“aku…
berani hadapi apa saja
asalkan aku tetap denganmu
sungguhku sedang tergila-gila
sungguhku sedang tergila-gila
denganmu…uuuuh..”

“Wuoooooow!” Para penonton bersorak, sambil bertepuk tangan. Walaupun suara si Butut cukup hancur, namun mereka semua sangat terhibur. Dengan rambutnya, Si Butut membentuk tangan yang saling menggenggam sambil berkata, “terima kasih, terima kasih..arigatou gozaimasu..xie xie..thank you..”

Penonton bertepuk tangan..

Tiba-tiba..

cek..duk..cek..duk duk..

musik mengalun lagi. Disusul dengan suara seorang wanita menyanyi..

“sungguh aku mencintaimu
biarpun orang tak ada yang percaya
kuakan membuktikan dengan hati dan tubuhku”

(Semua orang langsung melihat ke arah asal suara. Semua terkejut. Seorang wanita yang tak mereka kenal tiba-tiba masuk dari pintu, dan langsung menyanyi sesuai dengan musik yang mengalun. Si Butut langsung terhenyak. Orang yang menyanyi itu kan cewek yang ia kenal. Cewek yang pernah jalan-jalan bersamanya di Matos. Kenapa bisa ada di sini?? Ia menyanyi dengan suara yang..oh..begitu merdu, lebih merdu dari penyanyi aslinya..)

“sungguh aku menginginkanmu
menjadi malaikat yang menungguku
membawa luka dalam dunia yang penuh cinta”

(Sambil menyanyi, wanita itu berjalan dengan anggun ke arah si Butut. Pandangan matanya yang sayu terarah ke si Butut. Gerak tangannya pun untuk si Butut. Ia menyanyi untuk si Butut. Si Butut jadi kaku. Matanya tak berkedip)

“aku mencintaimu
seperti bintang yang mencintai malam
dan aku akan memberi
seluruh jiwaku”

(Segala rasa jadi tercampur aduk dalam diri si Butut. Rasa yang tak ia pahami. Rasa heran, namun juga senang. Dicampur rasa tegang, karena hasrat yang telah dia pendam. Si Butut memang tertarik dengan wanita itu sejak pertama bertemu, namun ia selalu berusaha menyembunyikannya. Wanita itu adalah orang yang membayar si Butut untuk ikutan karnaval. Dan ia sering mengantarkan wanita itu untuk beli perlengkapan karnaval ke Pasar Besar Malang, ke Matos, bahkan ke Batu buat beli bunga.
Dan..nyanyian ini..adalah..luapan perasaan cinta..wanita itu ingin menyatakan cintanya? Secepat inikah? Secepat inikah dia menyatakan cintanya? Benarkah wanita itu benar-benar merasakan hal yang sama dengan si Butut?)

“aku menginginkanmu
meskipun bumi tak pernah mengizinkan
bila memang itu yang terjadi
aku tak peduli”

(“Benarkah? Benarkah itu? Bila kau sungguh menginginkanku, sungguh aku juga mencintaimu..aku akan melindungimu, menjagamu, dan apapun yang terjadi, akan selalu di sisimu..kau sudah tahu jati diriku yang sebenarnya..kau pun mesti tahu, bahwa aku..juga sangat..mencintaimu…” Si Butut berkata dalam hati)

“sungguh aku menginginkanmu
meskipun mereka menentang cintaku
kuakan perjuangkan hingga jantungku terhenti”

(“Siapa yang menentang kita? Andaikan ada, aku tak kan rela melepaskanmu. Bila kita memang saling mencinta, nyawaku tak akan ada artinya. Kuserahkan hanya untuk cinta, karena cinta adalah segalanya..” si Butut makin mantap dengan perasaan cinta dalam dirinya)

woo woo woo
aku mencintaimu
seperti bintang yang mencintai malam
dan aku akan memberi
seluruh jiwaku

(“oh, benarkah ini? Benarkah ia mencintaiku? Ataukah ini hanya nyanyian belaka? Tanpa rasa yang sesungguhnya?” Heran yang muncul itu, sedikit meruntuhkan rasa mantap dalam diri si Butut)

aku menginginkanmu
meskipun bumi tak pernah mengizinkan
bila memang itu yang terjadi
aku tak peduli

(“Aku tak peduli..aku tak peduli lagi..aku hanya tahu bahwa ternyata aku mencintaimu..Sungguh..aku mencintaimu…aku mencintaimu..walaupun seandainya kau tidak mencintaiku..” Basah mata si Butut, tubuhnya gemetar, tak mampu ia menahan perasaan yang tak karuan ini)

Lagu berhenti. Sejenak kedua pandang mata si butut dan wanita itu saling bertemu. Lalu, dengan perlahan wanita itu berbalik ke arah penonton. Dan ia pun berubah. Ternyata itu adalah Reni! Anggota mutan baru yang bisa merubah dirinya menjadi siapa saja..

Semua penonton bersorak dan bertepuk tangan. Semua memandang kagum kepada Reni. Sungguh Reni mempunyai suara yang sangat merdu.

Namun si Butut..

“Apa yang terjadi? Reni?? Oh..Apa ini??” Pertanyaan itu berkecamuk dalam hati si Butut. Ia tak mampu berkata apa-apa. Kepalanya pusing, ia bingung setengah mati.

Si Joe dan si Textil tertawa terbahak-bahak.

“Ha ha ha..kenapa kamu jadi melongo begitu, Si Butut?” kata si Joe.

“Iya tuh, sampai keringatan begitu.” timpal si Textil.

“Waah..kayaknya kamu suka sama dia ya?” Goda si Dewi Geboi sambil senyum-senyum. “Terlihat dari matamu..he he he..”

“aku..tidak..” si Butut tak mampu meneruskan perkataanya. Ia jadi bingung dan gugup.

“Oho…kamu suka sama cewek ini kan?” kata si Joe, sambil memperlihatkan foto si Butut pas sedang jalan di Matos bersama seorang cewek.

Semua orang pun tertawa terbahak-bahak.

“Waaah..si Butut jatuh cintaaa!!

Sibutut kaget. Ia merasa dipermainkan. Ia merasa dipermalukan. Ia mendengus.

Si Joe berseru, “eh si Butut, jangan marah dong. Ceritain dong siapa dia!”

“Iya, jangan ngambek dong,” kata si Dewi Geboi, “kami cuma bercanda kok..”

“Ayolah si Butut, ceritain dong siapa dia, he he he..kami mendukungmu loh..he he he,” si Textil berkata sambil merangkul si Butut.

Tapi si Butut tak bisa berkata apa-apa. Ia malu sekali. Ia melepaskan diri dari rangkulan si Textil, lalu melangkah keluar dengan cepat. Tak peduli dengan sorakan kecewa dari teman-temannya.

Reni..ia hanya diam saja..ia merasa bersalah..

bersambung…ke kisah mutan 4