Kisah Mutan 5
(still flashback)
Begitu cepat hari-hari berlalu, sering kita tak menyadarinya. Tinggal beberapa hari lagi, karnaval akan segera dilaksanakan.
Dan dalam masa yang terlalu singkat itu bagaimanapun juga telah menjalinkan sebuah kisah asmara dalam hati dua manusia. Bagaikan lagu yang mengalun merdu dan meresap ke dalam pori-pori tubuh hingga menembus ke dalam qalbu, ia menyisakan jiwa yang kan selalu merindu…di sana….
Saat itu sore hari. Mobil karnaval teman-teman mutan kita telah selesai dibuat, dan disimpan di dalam garasi. Mereka telah siap ikutan karnaval.
Dewi Geboi, Chen si Cenayang, dan Joe si Peluru tulang sedang memasak di dapur sambil bergosip mengenai si Butut dan cewek incarannya yang belakangan diketahui bernama Harum.
“Yah..Tapi hidup itu seringkali dipenuhi dengan paradox dan ironi..” Begitu kata Joe si Peluru Tulang kepada Dewi Geboi dan Chen si Cenayang.
“Paradoks?..macaroni? Apaan maksudnya?” Tanya Dewi Geboi.
“Paradox…ironi…” Chen menyahut, “kayaknya pernah dengar deh di pelajaran bahasa indonesia..yang artinya..ehm…adalah…ehm..yaitu…ehm…”
“Kelamaan!!!! Bilang aja lupa!” Sela Dewi Geboi
“Yah..kayaknya…itu adalah hukum yang berlaku di dunia ini..” Jawab Joe si Peluru Tulang pelan.
“Walah..pusing deh aku..ngomong yang jelas-jelas aja deh” Si Dewi bingung.
“Begini,” Kata Joe, “sering kan kita memergoki Si Butut dan Harum sedang bersama-sama. Di Mall, di pameran, di bioskop, dan terakhir kita lihat mereka sedang berfoto bersama di alun-alun.”
“Yah..lalu?” Dewi Geboi masih terlihat bingung.
“Kau lihat mereka? Kau lihat mata mereka?” Kata Joe kemudian.
“Aku sih lihat Harum doang..dia emang cantik..hm..agak sedih juga si Butut yang tahu duluan..” Kata Chen.
“Eh…emang..di mata mereka ada apanya sih?” Dewi Geboi masih keliatan bingung.
“Maksudku..kau lihat kan..bahwa mereka saling suka?” ujar Joe.
“Yaaaah..gitu aja kok pake paradokter..si roni..mbulet baaaanget!” Sergah Dewi Geboi.
“Oooh…paradox dan ironi itu pasti nama dua orang yang saling mencinta dalam suatu drama romantis dari Inggris.” Kata si Chen yang sipit itu.
“Nguawur puol!!” Jawab si Joe. “Yah..Beginilah pemuda generasi masa depan bangsa kita. Paradox ironi aja gak tahu!”
“Nih…biar kujelaskan lewat lagu..!” Kata Joe sambil kemudian menyanyikan lagu burung camar yang dikarang oleh Abah Iwan dan dipopulerkan oleh Vina Panduwinata itu.
—————-
Burung camar
tinggi melayang
bersahutan dibalik awan
membawa angan-anganku jauh meniti buih
lalu hilang dalam kekalutan
kubahagia tiada terperi
indah nian jerat jiwaku
tak kenal duka derita
tak kenal nestapa
ceria penuh pesona
tiba-tiba ku tertegun
lubuk hatiku tersentuh
perahu kecil terayun
nelayan tua di sana
tiga malam bulan tlah menghilang
langit sepi walau tak bermega
tiba-tiba kusadari lagu burung camar tadi
cuma kisah sedih nada duka
hati yang terluka
tiada teman berbagi derita
bahkan untuk berbagi cerita
Burung camar
tinggi melayang
bersahutan dibalik awan
kini membawa anganku yang tadi melayang
jatuh ia dekat di kakiku
tiba-tiba kusadari lagu burung camar tadi
cuma kisah sedih nada duka
hati yang terluka
tiada teman berbagi derita
bahkan untuk berbagi cerita
Burung camar
tinggi melayang
bersahutan dibalik awan
kini membawa anganku yang tadi melayang
jatuh ia dekat di kakiku
Burung camar
tinggi melayang
bersahutan dibalik awan
kini membawa anganku yang tadi melayang
jatuh ia dekat….
jatuh ia dekat di kakiku..
—–
Sementara itu, di sisi lain di kota Malang, si Butut sedang mengagumi mobil karnaval yang ada di depannya. Di atas mobil karnaval itu bertengger burung garuda besar, terbuat dari bahan kayu, dan dilapisi logam. Keren. Dan bisa bergerak seandainya ada mesin yang menggerakkannya. Tapi kelihatannya burung garuda itu hanya akan di pasang di atas mobil truk yang juga dihias seperti bangunan-bangunan di kota.
Seperti telah diceritakan di cerita-cerita sebelumnya, Si Butut bekerja membantu orang lain membuat mobil karnaval, untuk lomba karnaval 17 agustusan. Orang yang dibantu itu bernama Gunawan. Gunawan menyewa 5 orang, termasuk si Butut, untuk membuat mobil karnaval beserta garuda besar tadi. Gunawan bertubuh pendek, dan mengaku sebagai seniman. Bersama 5 orang yang disewanya, ia membuat mobil hias dan burung garuda tersebut..untuk dijadikan sebagai salah satu karya seninya! Jadi bukan semata-mata buat karnaval.
Harum, adalah adik Gunawan. Sudah beberapa hari ini kelihatannya Harum makin akrab dengan si Butut. Bagaimana itu bisa terjadi? Yah..tanya aja mereka sendiri!
Yang jelas..beginilah perasaan Harum saat pertama kali mengenal si Butut..eh..sebelumnya perlu dikasih tahu terlebih dulu, si butut adalah nama panggilan oleh teman-teman mutannya. Sedang kepada orang-orang lain, ia mengaku bernama Budi. Ia harus menyamar kan, supaya identitas mutannya tak terbongkar, yah..kan banyak MARMUT (Masyarakat Anti Mutan) di sekitar..
Yup, sekarang mari kita lihat perasaan Harum saat pertama kali mengenal si Budi..alias si Butut..
~~~~~~~
Cinta
(Vina Pandu Winata)
bergetar hatiku
saat ku berkenalan dengannya
ku dengar dia menyebutkan nama dirinya
sejak kubertemu
kutelah jatuh hati padanya
didalam hati telah menjelma cinta
dan bawalah daku selalu
dalam mimpimu
di langkahmu
serta hidupmu
genggamlah daku
kini juga nanti
harapan di hatiku
bawalah diriku selamanya
~~~~~
Nah! Benar kan, kalau Harum juga suka sama si Butut. Gimana sih kok Harum dan Si Butut bisa saling menyukai? Gimana sih kok bisa Romeo dan Juliet saling mencintai? Gimana sih Peter Parker bisa jatuh cinta ama Mary Jane? Clark Kent dengan Louis? Kenapa nggak Peter Parker dengan Louis, atau sebaliknya Clark Kent jatuh cinta ama Mary Jane? Darimana sih datangnya cinta? Wah! Meneketehe!
Yang jelas, itulah yang terjadi antara si Butut dan Harum. Bahkan mereka telah berfoto bersama di alun-alun. Si Butut lalu mengedit foto itu dengan adobe photoshop supaya keliatan lebih cantik, lalu hasil print outnya diperbesar seukuran 7 inci. Gedhe banget kan? Harum yang seneng dengan hasil editannya si Butut memasang foto itu di dinding kamarnya, buat kenang-kenangan katanya..
Hm…buat kenang-kenangan yah..tapi kenapa sekarang si Butut kelihatannya tak begitu senang?
Begini, beberapa hari lagi kan karnaval. Si Butut akan menyopiri mobil karnaval Gunawan. Soalnya saat itu cuma si Butut yang punya SIM. Nanti, sambil menjadi sopirnya, si Butut pun juga akan memakai kostum karnaval sebagai pelengkap hiasannya.
Tapi bukan itu masalahnya sih. Masalahnya setelah itu! Setelah karnaval berakhir..apakah si Butut akan bisa bertemu dengan Harum lagi? Gunawan dan Harum bilang, mereka bukan orang asli Malang. Datang ke Malang cuma ingin ikut memeriahkan karnaval, asyik katanya, selain jalan-jalan tentunya. Jadi setelah itu gimana dong? Akankah mereka tetap tinggal? Si Butut bertanya-tanya dalam hati..
“Kayaknya aku mesti mengungkapkan perasaanku ke Harum..” pikir Si Butut. “Haruskah..? Atau..biarkan nanti mengalir aja..?”
“DorRRR!”
Si Butut terhentak dari lamunannya. Ternyata Harum ada di belakang si Butut. Berteriak mengagetkan si Butut. Untung si Butut gak latah. Gak lucu dong kalau si Butut yang superhero itu latah.
“Ha ha..lagi ngelamun ya?” Kata Harum riang.
“Ah! Nggak kok. Aku lagi mengagumi burung garuda ini. Indah sekali.” Kata si Butut.
“Yup. Abangku memang seniman hebat.” Kata Harum. “Oh ya, kita pergi yuk, antar aku beli camilan, buat karnaval nanti.”
“oh..ok! Ayuk!” Jawab si Butut.
Singkat kata, mereka telah berada di dalam mobil. Di dalam mobil, Si Butut masih berpikir tentang apakah harus mengungkapkan perasaannya apa tidak.
“Gimana ya…” pikirnya. Sudah beberapa menit mereka di dalam mobil. Tapi mereka belum membuka percakapan. Harum sendiri malah membaca majalah yang dari tadi sudah ada di dalam mobil.
“Ehm…mbak Harum..hari ini cerah sekali yah!” Kata si Butut tiba-tiba.
Sambil melihat ke luar jendela, Harum menjawab, “Kayaknya agak mendung deh…”
Ting…………..
“O! iya!! Iya yah! He he he he..” Kata si Butut kemudian. Awan memang lagi mendung. Kenapa ia bilang hari ini cerah ya? Jelaslah kalau si Butut lagi grogi.
“Maksudku…bukankah akan lebih asik kalau hari ini cerah..” Si Butut ngomong lagi.
Aha..bisa aja si Butut!
“Emang kenapa?” kata si Harum sambil menoleh ke si Butut. Kedua mata yang indah itu memandang ke arah si Butut. Si Butut jadi makin grogi menerima tatapan mata yang berkilat-kilat cantik itu. Memang ada sesuatu yang beda di dalam mata si Harum. Bagi si Butut, itu adalah sesuatu yang sangat indah, yang sulit untuk dilupakan… dan sulit untuk diungkapkan keindahannya dengan kata-kata.
Si Butut tak berani menatap kedua mata Harum. Apalagi saat itu ia lagi nyetir mobil. Ia akhirnya menatap jauh ke depan. Dadanya berdegub kencang. Ia bingung mau berkata apa..bingung mau bagaimana menyikapi semua ini..Bingung harus bagaimana…
bersambung ke kisah Mutan 6