Kisah Mutan 7
….bukan flash back….
“kenangan ini..
tak pernah mati..
ku tak sesali..
ku tak mau buang pergi..”
(suara radio, judul lagu: “Still”, dinyanyikan oleh Lionel Richie:
“baby…
morning just a moment away..
and i’m without you once again..”)
“biarlah ku hidup
dengan kenangan ini..
meski kini kau telah pergi
tinggalkan pedih
tak terperi..”
(“you laughed at me..
you said you’ve never needed me..
i wonder if you need me now..”)
“ku tak lagi peduli
dengan diri sendiri..
ku tak harap kau kembali..
biarkan hidupku mati..”
(“so many dreams that flew away
so many words we didn’t say..
two people lost in a storm
where did we go..where’d we go?”)
“hanya..kuingin melihatmu..
untuk yang terakhir kali..
kan kusimpan senyum manismu..
dalam bilik relung hati..”
(“the lost..what we both have found..
you know we let each other down..
but then most of all..i do love you..
Still…”)
“Dan maafkan yang tlah terjadi..
sudah tak bisa diperbaiki..
semuanya telah jadi mimpi..
semuanya telah menguap pergi..”
(“we played a game that people play
we made our mistakes along the way..”)
“Hatiku mendoakanmu..
disepanjang langkah-langkahku
Rinduku takkan terobati..
biar sajalah begini…”
(“somehow i know deep in my heart
you needed me..
cause i needed you..so desperately..
we were too blind to see…”)
“Pergilah dengan sayapmu
raihlah harapan sucimu..
ku kan tersenyum dari jauh..
hanya tersenyum dari jauh..”
(“but then most of all..
i do love you..still..”)
Pagi hari di bulan November..Si Butut duduk lemas di tepi kasurnya. Rambutnya terurai panjang dan kusut. Kepalanya tertunduk dalam. Matanya terpejam. Setetes air mata jatuh ke atas pangkuannya…
Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya pelan-pelan.
Ia berbisik lirih..
“Ku tak ingin melepasmu…ku tak mampu…” Suaranya gemetar.
Sambil terisak, ia menarik napas dalam-dalam sekali lagi.
“Tapi kamu udah menjauhiku..”
Ia diam sejenak, dan berbisik lagi.
“Pergilah..mungkin ini yang terbaik buat kita berdua..Pergilah…!”
—- flash back lagi.. ke saat pengumuman pemenang karnaval, bulan Agustus —–
Patung burung garuda itu bergerak layaknya hidup. Sambil terbang rendah, kakinya mencengkeram tubuh pak walikota. Kepak sayapnya menyebabkan angin bertiup sangat kencang. Beberapa petugas keamanan datang, menembaki burung garuda itu, dengan berusaha tidak mengenai pak walikota tentunya. Namun, peluru-peluru itu hanya terpantul, burung garuda itu tahan peluru.
“Tahan tembakan! Tahan Tembakan!” Teriak salah seorang pimpinan petugas keamanan, tampaknya ia melihat peluru memantul ke arah penonton, untungnya tak ada yang kena.
Seperti ada pengeras suara dari burung garuda, terdengar suara tawa. “Ha ha ha ha! Inilah balasannya! Inilah balasannya! Inilah awal dari pembangunan Kota!!! Ha ha ha ha ha..!!”
Si Textil muncul melayang di atas kain permadaninya, bersama Joe si Peluru Tulang, dan Dewi Geboi. Mereka semua telah mengenakan topeng yang menyembunyikan wajah.
“Lepaskan pak wali!!” Dewi Geboi berteriak sambil menunjuk ke arah burung garuda itu.
Burung garuda itu mengepakkan sayapnya lebih keras, lalu melesat ke angkasa.
“Woooooaaaaaaaaaaaaadddooooowwww biiyyuuuungg…!!!” pak wali jadi berteriak ketakutan.
Terlihat Si Butut sudah tergantung pada burung garuda. Rambut mautnya ternyata telah membelit ekor burung garuda yang terbang makin tinggi itu. Tapi tiba-tiba, dari belakang burung garuda melesat beberapa anak panah ke arah si Butut.
ssssuuup! ssssupp! sssuuuuppp!!!
Si Butut membentuk perisai dari rambut mautnya, panah terpental. Tapi akibatnya belitan rambutnya kendor dan ia terlepas. Si Butut terjatuh!
Untunglah ada si Textil, dengan permadani terbangnya menerima tubuh si Butut.
“Kejar! Kita harus membuatnya turun!” Teriak si Butut.
Permadani terbang melesat mengejar burung garuda. Terjadi manuver-manuver udara yang mencekam. Rambut si Butut berkibar-kibar berusaha menjangkau burung garuda. Namun burung garuda itu bisa menghindar. Joe si Peluru Tulang kadang menembak ke arah burung garuda itu, namun ia tak bisa leluasa, karena takut terkena pak walikota.
Si Textil menfokuskan diri mengendalikan permadaninya.
Di tengah keadaan yang sangat sulit itu, tiba-tiba burung garuda terbang ke atas, lalu memutar, berbalik ke bawah, dan dari mulutnya keluar api, mengarah ke arah teman-teman mutan kita..wuuuussshhh !!
“Woaaaawww!!!”
Dengan cepat rambut si Butut membentuk perlindungan, melingkupi dirinya dan teman-temannya. Teman-teman mutan kita terlindung dari kobaran api, namun panasnya tetap terasa menyengat tubuh mereka.
Tapi, tepi permadani terbakar terkena api!
“Wadoh! Apa yang harus kita lakukan?” Seru Dewi Geboi, ia dan Joe menepuk-nepuk api itu, berusaha memadamkannya.
Wuuuuuusssssssshhhhhhh!!!!
Sekali lagi api menyambar ke arah si Butut dan teman-temannya.
Si Butut melingkupkan rambutnya lagi supaya terlindung. Sebenarnya Si Butut ingin melindungi permadaninya juga, tapi serangan burung garuda terlalu cepat, sehingga ia tak sempat. Dan jilatan api masih terkena tepi permadani, api jadi makin besar.
“Gawat! Kita harus turun nih!” Si Textil panik.
“Baik! Kita turun dulu!” kata si Butut.
Permadani terbang melesat turun ke tanah. Si Butut dan teman-temannya selamat. Namun api berkobar menghanguskan permadani terbang.
“Kau tak bisa mengendalikan burung garuda itu, Textil? Ada kayu di situ,” tanya si Butut sambil terengah-engah.
“Aku tadi sudah coba, tapi tak bisa. Ada kekuatan lain yang mengendalikan burung garuda itu!” Jawab si Textil.
“Dia menangkap pak Wali. Apa maunya sih?” Kata Joe si Peluru Tulang.
Dewi Geboi terlihat geram. Tangannya terkepal sangat rapat, memandang tajam ke burung garuda yang terbang meliuk-liuk di angkasa, seolah-olah merayakan kemenangannya…
Si Butut meninju telapak tangannya sendiri. Ia sangat kesal.
Bagaimana kisah si Butut selanjutnya? Baca “Kisah Mutan 8″ hanya di www.sibutut.wordpress.com
October 29, 2009 at 5:08 am
menarik bang,imajinatif banget… kapan2 kunjungi blogku ya…..