Kisah Mutan 9
Tetap Flashback..
Si Butut, Si Textil, dan Dewi Geboi telah sampai ke tempat ke sebuah bangunan tempat pak Wali disekap. Si Butut langsung mengenali tempat itu. Ini tempat tinggal Harum dan Gunawan. Kenapa di sini? Pikir Si Butut..
Pelan-pelan, mengendap-endap, Si Butut, Si Textil, dan Dewi Geboi masuk ke dalam bangunan itu. Mereka memasuki suatu area yang luas, tempat dimana dulu Si Butut membuat burung garuda untuk karnaval. Burung Garuda itu adalah milik Harum dan Gunawan. Dan burung garuda itu telah menculik pak wali. Si Butut jadi deg-deg an. Ini burung Garuda, lambang negara, tapi dibuat untuk melakukan penculikan. Kalo ini dibuat jadi film, kayaknya bisa dicekal.
Sepi sekali di ruangan itu. Ketiga superhero menaiki sebuah tangga, menuju lantai dua. Dengan pelan-pelan, berusaha tidak membikin suara. Sampai di lantai dua, ada sebuah pintu. Si Textil berusaha membuka pintu itu dengan kekuatannya. Tapi tidak bisa. Karena kuncinya terbuat dari besi. Dewi Geboi mengambil jepit rambut dari rambutnya. Lalu mengorek2 lubang kunci, dan terbukalah pintu itu. Di dalam ruangan itu ada semacam sel kecil, dengan pak walikota di dalam sel itu. Ia pingsan.
“Kita harus menyelematkan pak wali” kata si butut.
Tapi sel itu terkunci sangat kuat. Textil gak bisa membukanya. Demikian pula si Butut. Trang-trang..Dewi Geboi berusaha memukul-mukulkan besi yang ditemukannya ke sel itu. Berharap akan membengkokkan jeruji. Tapi sia-sia. Sibutut berusaha membuka jeruji dengan rambutnya, pelan-pelan besi itu mulai bengkok..tapi..
Tiba-tiba…
Terdengar suara orang berteriak di belakang mereka.
“Hiyaaaaa!!” Suara itu adalah suara dari seorang yang berbadan bulat pendek, membawa sebuah senapan. Ia menembakkan senapannya..dor! dor! dor!
Si butut terkejut, ia menoleh ke belakang dan melihat Gunawan, abang Harum, menembakkan senapannya. Si Textil yang berada paling belakang bersimbah darah.
“Text!!! Teriak Si Butut sambil memanjangkan rambutnya melindungi textil dari peluru senapannya Gunawan. Sementara Dewi Geboy melompat ke atas,berputar, menjejakkan kakinya ke langit-langit lalu meluncur ke arah gunawan. Gunawan terlambat bergerak, tangan Dewi Geboy yang mengepal memukul kedua pundak Gunawan. Brug!! Gunawan terjengkang.
“Arrggghh!” Gunawan menjerit kesakitan.
Lalu tiba-tiba ada 3 buah busur panah entah dari mana meluncur ke arah kepala dewi Geboy..Dewi Geboy dengan sigap menundukkan kepalanya..sssttt..busur panah itu meluncur melewati atas kepala dewi geboy. Kemudian Dewi geboy langsung meloncat ke arah luar ruangan, mencari siapa yang menembakkan busur panah tersebut.
Sementara itu, si textil yang terkena tembak di dada atasnya mengerang kesakitan dalam pelukan si butut. Si butut berusaha menutup luka si textil dengan kain sobekan bajunya.
“Bertahanlah tex!” kata si Butut.
Dewi Geboy keluar, dan tidak menemukan siapapun.
Si Butut berusaha menelpon ke markas mutan Indonesia. Meminta bantuan. Tapi..tidak ada sinyal!
“Arrrggghhh!!! Mana yang katanya jangkauan sinyalnya seluruh Indonesia???”
Teriak Dewi Geboy kesal.
Kemudian tiba-tiba Gunawan berlari keluar dari ruangan. Dewi Geboy kaget, “Hey! Berhenti!” Ia mengejar Gunawan, tapi langkahnya terhenti karena ia merasakan ada lagi busur panah yang mengarah ke dirinya. Dewi Geboy menghindar..uff..nyaris! Untung busur panah tersebut mampu dihindari Dewi Geboy. Tapi akibatnya, Gunawan dapat lepas dari kejaran Dewi Geoby. Gunawan berlari ke suatu ruangan yang lain.
Si Butut memanggil Dewi Geboy, meminta bantuan untuk menyelamatkan Si Textil.
“Biar aku yang mengejar mereka”, kata si Butut.
Si Butut sangat penasaran, jika yang tadi adalah Gunawan, maka siapa orang satunya lagi? Harum? Ia sangat penasaran ingin tahu. Ia keluar dari ruangan, lalu berteriak..”Gunawan! Tunjukkan dirimu, kenapa kamu melakukan ini semua??”
Apa gerangan yang akan terjadi selanjutnya? Tunggu ya..Kisah Mutan 10!