Archive for the kisah mutan Category

Kisah Mutan 8

Posted in kisah mutan with tags on November 17, 2008 by Lou

“Si Butut! Bagaimana ini? Kita tak boleh kehilangan dia!” Ujar si Textil.

“Kita harus cari si Chen..” Si Butut mengeluarkan cell phonenya, dan mencoba menghubungi si Chen.

Tu la lit tu la lit…tu la lit tu la lit..nomor yang anda tuju sedang tidak aktif . . atau di luar jaringan..

“Kok gak nyambung, yah???” Kata si Butut kesal.

“Eh, si Chen kan nomornya ganti?” Sela Joe si Peluru Tulang. Lalu membuka cell phone nya dan menunjukkan nomer si Chen kepada si Butut, “Nih nomernya..”

Si Butut menekan nomernya, dan mulai menelpon.

Tu la lit tu la lit…maaf..nomor yang anda tuju..sedang tidak aktif..atau di luar jaringan..dan tidak akan keluar di togel..

“Buset!! Kok gak bisa juga??” Si Butut makin kesal.

“O ya! Lusa kemarin dia kasih aku nomor baru..biar aku aja yang telpon..” Ujar Dewi Geboi. Ia mulai menelpon si Chen.

“Huuuh..kok dia sering ganti nomer sih??” Kata si Butut.

“Yah..biasalah..tiap ada operator yang nawarin harga murah, dia langsung ganti kartu.” Jawab Joe si Peluru Tulang.

Dewi Geboi berhasil menghubungi Chen si Cenayang.

“Hei! Emergency! Hubungi kami dengan kekuatanmu! Cepat!” Teriak si Dewi Geboi singkat, lalu memutuskan telponnya.

Si Textil heran, “loh, kok cuman gitu aja?”

“Santai, dia kan punya kekuatan, dia aja hubungi kita. Telpon lama-lama mahal maan…” Jawab Dewi Geboi.

Tak lama kemudian..muncul bayangan si Chen di hadapan mereka. Ia memang sudah bisa memunculkan bayangan dirinya ke lain tempat, seperti tubuh astral gitulah. Lalu orang bisa berkomunikasi melalui tubuh astralnya itu.

“Hoi…Chen yang kuul dah ada di sini..whuss up yo!” Kata si Chen.

“Pak walikota diculik. Sama burung garuda! Kau harus cari dimana ia hinggap!” Seru si Butut cepat.

“Pak wali diculik? Burung garuda??” Si Chen bingung karena gak tau apa-apa.

“Pokoknya kamu harus cari burung garuda besar yang telah membawa pak wali. Cepat! Pak wali dalam bahaya!” Seru di Butut lagi.

“Oh..oke deh..tunggu ya!”

Bayangan Chen si Cenayang lenyap. Di lain tempat, Chen berusaha memusatkan konsentrasinya, mencari lokasi di mana burung garuda membawa pak walikota.

Tak lama kemudian, bayangan Chen muncul lagi di hadapan si Butut dan kawan-kawan.

“Pak wali ada di sebuah sel besi..disekap..burung garudanya baru saja pergi…” Lalu si Chen memberi tahu lokasi pak wali.

“Ok! Kamu harus siap-siap dihubungi lagi, jangan matikan hpmu!” Si Butut memberi perintah.

“Siap boss!” Kata si Chen..lalu bayangannya lenyap lagi.

Dewi Geboi cepat berujar, “kita harus segera ke sana, si Chen bilang, burung garudanya lagi pergi..”

“Yak! Textil, kamu bisa cari sesuatu untuk terbang?” Kata si Butut.

“Hm..aku perlu permadani yang agak padat supaya bisa menerbangkan kita semua..” jawab si Textil.

Bagaimana kelanjutan kisah mutan ini? Jangan lewatkan Kisah Mutan 9! Hanya di www.sibutut.wordpress.com

Kisah Mutan 7

Posted in kisah mutan on November 17, 2008 by Lou

….bukan flash back….

“kenangan ini..
tak pernah mati..
ku tak sesali..
ku tak mau buang pergi..”

(suara radio, judul lagu: “Still”, dinyanyikan oleh Lionel Richie:
“baby…
morning just a moment away..
and i’m without you once again..”)

“biarlah ku hidup
dengan kenangan ini..
meski kini kau telah pergi
tinggalkan pedih
tak terperi..”

(“you laughed at me..
you said you’ve never needed me..
i wonder if you need me now..”)

“ku tak lagi peduli
dengan diri sendiri..
ku tak harap kau kembali..
biarkan hidupku mati..”

(“so many dreams that flew away
so many words we didn’t say..
two people lost in a storm
where did we go..where’d we go?”)

“hanya..kuingin melihatmu..
untuk yang terakhir kali..
kan kusimpan senyum manismu..
dalam bilik relung hati..”

(“the lost..what we both have found..
you know we let each other down..
but then most of all..i do love you..
Still…”)

“Dan maafkan yang tlah terjadi..
sudah tak bisa diperbaiki..
semuanya telah jadi mimpi..
semuanya telah menguap pergi..”

(“we played a game that people play
we made our mistakes along the way..”)
“Hatiku mendoakanmu..
disepanjang langkah-langkahku
Rinduku takkan terobati..
biar sajalah begini…”

(“somehow i know deep in my heart
you needed me..
cause i needed you..so desperately..
we were too blind to see…”)

“Pergilah dengan sayapmu
raihlah harapan sucimu..
ku kan tersenyum dari jauh..
hanya tersenyum dari jauh..”

(“but then most of all..
i do love you..still..”)

Pagi hari di bulan November..Si Butut duduk lemas di tepi kasurnya. Rambutnya terurai panjang dan kusut. Kepalanya tertunduk dalam. Matanya terpejam. Setetes air mata jatuh ke atas pangkuannya…

Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya pelan-pelan.

Ia berbisik lirih..

“Ku tak ingin melepasmu…ku tak mampu…” Suaranya gemetar.

Sambil terisak, ia menarik napas dalam-dalam sekali lagi.

“Tapi kamu udah menjauhiku..”

Ia diam sejenak, dan berbisik lagi.

“Pergilah..mungkin ini yang terbaik buat kita berdua..Pergilah…!”

—- flash back lagi.. ke saat pengumuman pemenang karnaval, bulan Agustus —–

Patung burung garuda itu bergerak layaknya hidup. Sambil terbang rendah, kakinya mencengkeram tubuh pak walikota. Kepak sayapnya menyebabkan angin bertiup sangat kencang. Beberapa petugas keamanan datang, menembaki burung garuda itu, dengan berusaha tidak mengenai pak walikota tentunya. Namun, peluru-peluru itu hanya terpantul, burung garuda itu tahan peluru.

“Tahan tembakan! Tahan Tembakan!” Teriak salah seorang pimpinan petugas keamanan, tampaknya ia melihat peluru memantul ke arah penonton, untungnya tak ada yang kena.

Seperti ada pengeras suara dari burung garuda, terdengar suara tawa. “Ha ha ha ha! Inilah balasannya! Inilah balasannya! Inilah awal dari pembangunan Kota!!! Ha ha ha ha ha..!!”

Si Textil muncul melayang di atas kain permadaninya, bersama Joe si Peluru Tulang, dan Dewi Geboi. Mereka semua telah mengenakan topeng yang menyembunyikan wajah.

“Lepaskan pak wali!!” Dewi Geboi berteriak sambil menunjuk ke arah burung garuda itu.

Burung garuda itu mengepakkan sayapnya lebih keras, lalu melesat ke angkasa.

“Woooooaaaaaaaaaaaaadddooooowwww biiyyuuuungg…!!!” pak wali jadi berteriak ketakutan.

Terlihat Si Butut sudah tergantung pada burung garuda. Rambut mautnya ternyata telah membelit ekor burung garuda yang terbang makin tinggi itu. Tapi tiba-tiba, dari belakang burung garuda melesat beberapa anak panah ke arah si Butut.

ssssuuup! ssssupp! sssuuuuppp!!!

Si Butut membentuk perisai dari rambut mautnya, panah terpental. Tapi akibatnya belitan rambutnya kendor dan ia terlepas. Si Butut terjatuh!

Untunglah ada si Textil, dengan permadani terbangnya menerima tubuh si Butut.

“Kejar! Kita harus membuatnya turun!” Teriak si Butut.

Permadani terbang melesat mengejar burung garuda. Terjadi manuver-manuver udara yang mencekam. Rambut si Butut berkibar-kibar berusaha menjangkau burung garuda. Namun burung garuda itu bisa menghindar. Joe si Peluru Tulang kadang menembak ke arah burung garuda itu, namun ia tak bisa leluasa, karena takut terkena pak walikota.
Si Textil menfokuskan diri mengendalikan permadaninya.

Di tengah keadaan yang sangat sulit itu, tiba-tiba burung garuda terbang ke atas, lalu memutar, berbalik ke bawah, dan dari mulutnya keluar api, mengarah ke arah teman-teman mutan kita..wuuuussshhh !!

“Woaaaawww!!!”

Dengan cepat rambut si Butut membentuk perlindungan, melingkupi dirinya dan teman-temannya. Teman-teman mutan kita terlindung dari kobaran api, namun panasnya tetap terasa menyengat tubuh mereka.

Tapi, tepi permadani terbakar terkena api!

“Wadoh! Apa yang harus kita lakukan?” Seru Dewi Geboi, ia dan Joe menepuk-nepuk api itu, berusaha memadamkannya.

Wuuuuuusssssssshhhhhhh!!!!

Sekali lagi api menyambar ke arah si Butut dan teman-temannya.

Si Butut melingkupkan rambutnya lagi supaya terlindung. Sebenarnya Si Butut ingin melindungi permadaninya juga, tapi serangan burung garuda terlalu cepat, sehingga ia tak sempat. Dan jilatan api masih terkena tepi permadani, api jadi makin besar.

“Gawat! Kita harus turun nih!” Si Textil panik.

“Baik! Kita turun dulu!” kata si Butut.

Permadani terbang melesat turun ke tanah. Si Butut dan teman-temannya selamat. Namun api berkobar menghanguskan permadani terbang.

“Kau tak bisa mengendalikan burung garuda itu, Textil? Ada kayu di situ,” tanya si Butut sambil terengah-engah.

“Aku tadi sudah coba, tapi tak bisa. Ada kekuatan lain yang mengendalikan burung garuda itu!” Jawab si Textil.

“Dia menangkap pak Wali. Apa maunya sih?” Kata Joe si Peluru Tulang.

Dewi Geboi terlihat geram. Tangannya terkepal sangat rapat, memandang tajam ke burung garuda yang terbang meliuk-liuk di angkasa, seolah-olah merayakan kemenangannya…

Si Butut meninju telapak tangannya sendiri. Ia sangat kesal.

Bagaimana kisah si Butut selanjutnya? Baca “Kisah Mutan 8″ hanya di www.sibutut.wordpress.com

Kisah Mutan 6

Posted in kisah mutan with tags , , , on August 20, 2008 by Lou

kisah mutan 6

Hujan turun..rintik-rintik..dan berangsur-angsur makin deras. Harum memandang si Butut, menunggu jawaban..

Muka si Butut memerah. Ia salah tingkah, dan menghela napas panjang. Ia menoleh ke arah Harum sebentar, tersenyum..dan..

“ya..sebab..matamu begitu cerah..Jadi kalo cuaca juga cerah..kan cocok,” kata si Butut sekenanya.

Harum menaikkan alis matanya.

“Ha ha..! ha ha ha ha..!” si Butut tertawa konyol, berharap Harum mau menerima lawakannya yang sangat gak lucu barusan.

Kemudian..Harum pun turut tersenyum..

~~~
ucapkanlah kasih
satu kata yang kunantikan
sebab kutak mampu membaca matamu
mendengar bisikmu

nyanyikanlah kasih
senandung kata hatimu
sebab kutak sanggup
mengartikan getar ini
sebab ku meragu pada dirimu
 
mengapa berat ungkapkan cinta
padahal ia ada
dalam rinai hujan
dalam terang bulan
juga dalam sedu sedan

mengapa sulit mengaku cinta
padahal yang terasa
dalam rindu dendam
hening malam
cinta terasa ada
~~~

Hari karnaval!

Mobil-mobil karnaval telah berjajar rapi, berjalan pelan, di sepanjang jalan. Warga kota Malang menonton dengan sangat antusias di tepi-tepi jalan.

Mobil karnaval teman-teman mutan kita mirip seperti panggung boneka. Dengan bentuk seperti kota tempo doeloe yang hancur karena perang, dan boneka-boneka yang bergerak-gerak dan bersuara, menampilkan adegan-adegan perang kemerdekaan. Boneka-boneka itu digerakkan oleh teman-teman kita di bawah panggung. Tak terlihat oleh penonton.

Mobil karnaval yang disopiri si Butut, alias mobil karnaval milik Gunawan dan adiknya, Harum, berbentuk burung garuda yang besar, yang bertengger di atas mobil dengan gagah. Sebenarnya, akan lebih sempurna seandainya burung itu bisa bergerak. Namun matanya yang merah menyala-nyala, serta suara burung garuda dari sound system, setidaknya membuat burung garuda itu jadi seperti hidup.

Si Butut menyetir sendirian di dalam mobil. Sedangkan Harum di belakang, di dekat burung garuda, berpakaian seperti pejuang kemerdekaan, yang mempertahankan lambang negara. Ia membacakan puisi melalui pengeras suara. Sedangkan si Gunawan, entahlah, dari tadi tidak kelihatan..

Sangat meriah! Lomba mobil karnaval ini diikuti oleh banyak peserta yang sangat kreatif, yang menghiasi mobil mereka dengan berbagai tema kemerdekaan dan indonesia.

Chen, salah satu teman mutan kita, berada di antara penonton, mengambil satu persatu foto mobil karnaval yang lewat di depannya. Tapi tidak hanya itu, ia juga mengambil foto orang-orang yang menarik perhatiannya, terutama cewek-cewek Malang yang cantik-cantik, ia ambil gambarnya secara diam-diam. Yah, maklum lah, mutan yang satu ini emang playboy.

Sore hendak berakhir. Semua mobil karnaval satu persatu memasuki finish, dan mereka parkir di tempat yang disediakan, di dalam dan luar stadion gajayana. Mereka telah dinilai dari start sampai finish, penampilan mereka, bentuk mobil hias mereka, dan lain-lainnya. Ada tim penilainya. Dan Pengumuman pemenangnya pun akan diumumkan hari ini juga di sebuah panggung.

Reporter tivi-tivi lokal dan nasional ramai meliput acara ini. Perhatian semua orang sekarang telah tertuju ke sebuah panggung, dimana akan dibacakan siapa yang akan menjadi pemenang lomba mobil hias karnaval. Pak Walikota telah berdiri di atas panggung, dan akan segera membacakan hasil penjurian, sekaligus akan menyerahkan hadiahnya secara simbolis.

“Baiklah bapak-bapak, ibu-ibu, mas-mas, mbak-mbak, adik-adik, yang telah memilih saya sebagai walikota, I love you, maupun yang tidak memilih saya, I love you too..seperti yang telah kita tahu, Malang, sebagai kota Bunga yang tak ada bunganya…bla bla..bla bla..bla bla..”

Semua orang mendengarkan pidato pak Wali dengan harap-harap cemas. Tentu saja mereka sudah tak sabar untuk mengetahui siapa yang menjadi juaranya. Suasana hening..Burung-burung berhenti berkicau, angin berhenti bertiup..dan semua orang pun menahan kentut…satu-satunya suara yang berkumandang adalah suara pak Wali yang sedang mengutarakan isi hatinya..

Dan tak lama kemudian..tibalah saatnya dibacakan pemenang dari lomba hias mobil karnaval yang heboh ini…

“Pemenangnya adalah…peserta nomor….”

dung dung dung dung dung dung dung dung…!! Bunyi genderam..

“Setelah iklan-iklan yang berikut ini!!”

Huuuuuuuu !!! Para penonton bersorak penuh kecewa. Tapi seakan tidak peduli dengan teriakan penonton, muncullah beberapa orang dari salah satu produk operator seluler ke atas panggung, mereka bergantian membeberkan kelebihan produknya..

“bla bla bla bla…”, kata salah seorang yang mempromosikan produknya.

“Alaah..paling juga antar sesama!” celetuk salah seorang penonton.

“Eit! Bla bla bla..bla bla bla!” Jawab salah seorang yang mempromosikan produknya. Sambil seorang yang lain membuka lembaran kertas bertuliskan “Syarat dan Ketentuan Berlaku”, dan dibawahnya ada tanda bintang, dengan tulisan yang lebih kecil.

“Alaaah…paling juga pada jam tidur!” celetuk salah seorang penonton lagi.

“Eit! Bla bla bla..bla bla bla..! Jawab salah seorang yang mempromosikan produknya lagi. Seorang yang lain tetap membuka lembaran kertas yang tadi.

“Hei! Tunggu!! Itu tulisannya kok kecil sekali? Bacain dong!” Teriak salah seorang penonton lagi.

“Eit! Maaf ya! Kita terbatas durasi, jadi gak bisa bacain. Dan lembaran kertasnya juga gak bisa besar, soalnya akan sulit bawanya kalau besar. Jadi huruf-hurufnya ya menyesuaikan dengan kertasnya dong..segini…bisa dibaca kok..!” Kata salah seorang di panggung.

“Mana bisa dibaca! Wong kecil-kecil gitu!” Seru penonton di belakang.

“Eit! Jangan malas dong, maju sini kek, pasti bisa baca!” Jawab seorang di panggung lagi.

Dan berakhirlah acara iklan di atas panggung, dengan meninggalkan rasa penasaran pada penontonnya..

Pak Walikota maju lagi di atas panggung. “Baiklah, sekarang saatnya diumumkan, siapa yang akan menjadi pemenang dari lomba mobil hias karnaval kali ini!!”

Penonton diam lagi. Mereka menunggu..

“Juara 3 adalah…..”

Dum dum dum dum dum..! Bunyi genderang lagi.

“…Nomor 153!!!”

Horeeeeee!! Para penonton berteriak dan bertepuk tangan.

“Dan juara 2 adalah…”

Bunyi genderang lagi..

“..Nomor 28!!!”

Yihuuuuuu! Penonton berseru lagi sambil bertepuk tangan.

“Daaaan..juara satuuuuu…adalah…!”

Para penonton menahan napas..bahkan ada juga yang menutup hidungnya karena baru saja ada suara misterius!

“Nomooor…..246!!!

Horeeeeeee!!! Para penonton bersorak, dan bertepuk tangan. Sementara beberapa dari mereka ada juga yang mengeluarkan pena dan kertas, mencatat nomor-nomor yang muncul tadi. Barangkali mau dibuat taruhan!

Si Butut ada di mobil sendirian, karena tadi si Harum pergi, dan bilangnya mau beli es degan.

“Ah, mobil hias ini gak menang, dan mobil hias teman-teman juga gak menang..” Pikirnya. Ia keliatan kecewa.

Tiba-tiba Si Butut terloncat kaget! Karena tiba-tiba patung burung garuda di belakang mobilnya bergerak lalu melesat terbang!!

“Eh??? Ada apa??” Seru Si Butut. Ia keluar dari mobil. Ia melihat burung garuda tadi terbang meluncur ke arah panggung. Dengan cepat burung itu menyambar pak Walikota,dan kakinya mencengkeram pak Wali dan membawanya terbang..

Mata Si Butut terbelalak. Semua kejadian tadi berlangsung sangat cepat. Sesaat ia seperti tak bisa bergerak..semua orang di sekeliling pun terhenyak..

Apa yang terjadi???? Apa yang terjadi ????

Bersambung ke Kisah Mutan 7..