Kisah Mutan 10

Posted in Uncategorized on February 24, 2012 by Lou

Si Butut keluar dari ruangan sebelumnya, lalu melangkah secara hati-hati di tepi sepanjang tembok ruangan besar yang dimasukinya. Di tengah, si butut berhenti, dan berteriak sekali lagi.

“Gunawan! Apa maksud ini semua? Ayo keluar dan kita bicarakan!”

Si Butut mempersiapkan rambutnya, rambutnya berderai melingkupi tubuhnya..ia mencoba mengantisipasi serangan tiba-tiba seperti sebelumnya dengan rambutnya.

Hening..tidak ada suara apapun..

“Gunawan! Aku tahu kau masih di sini. Untuk apa semua ini?? Ayo kita bicara!” Teriak si Butut sekali lagi.

Tiba-tiba pintu besar ruangan itu terbuka pelan-pelan..

yang masuk adalah…Chen si Chenayang..

“Eh..sori terlambat..

Kata si Chen. “Jalanan macet.”

“Chen? Kau dah panggil bantuan?” Seru si Butut. “Tex terluka..”.

“Tenang..tenang..dengan penglihatanku, aku tadi dah melihat, Tex selamat. Ia sudah ditolong dengan baik oleh mbak Dewi Geboy.
Tapi ia masih gak boleh bergerak.” Jawab Chen dengan tenang.
“Ngomong-ngomong tentang Gunawan, ia ada di balik tumpukan peti besar itu..hati-hati, ia di dalam burung garuda, mungkin itu senjatanya.”

Tiba-tiba dari balik peti-peti di pojok ruangan, muncul burung garuda yang menculik pak walikota tadi.
Kuaaaakkkk!

Burung itu terbang rendah dengan cepat menuju ke arah Chen, dan menembakkan beberapa panah.

“Chen! Hati-hati!” Si Butut berteriak. Tapi sepertinya terlambat, panah-panah itu melesat ke tubuh chen!

Tapi, tiba-tiba bayangan Chen lenyap, dan ia pindah ke tempat lain.

“Hei! aku di sini..!” Seru Chen. Burung garuda tadi berusaha mengejar ke arah Chen lagi. Tapi Si Butut segera membelitkan rambutnya ke leher burung garuda itu. Si burung garuda jadi meronta-ronta berusaha untuk melepaskan diri. Si Butut membanting burung garuda ke lantai dengan rambutnya. Prakkkk!!! Suara keras akibat benturan burung garuda dengan lantai.

Tiba-tiba ada panah lagi melesat, dari arah lain, bukan dari burung garuda. Dan panah itu menuju ke si Butut dan Chen sekaligus. Si Butut langsung beringsut sedikit untuk menghindar. Tapi akibatnya, ikatan rambutnya pada burung garuda mengendor, burung garuda meronda lagi hendak terbang. Si Butut berusaha mengeraskan lagi ikatannya..tapi tiba-tiba panah-panah itu datang lagi..Si Butut, menarik burung garuda dengan rambutnya, berusaha untuk menjadikannya tameng. Panah itu mengenai burung garuda. Tapi burung garuda itu membuka mulutnya ke arah si Butut. Si Butut mencium adanya bahaya. Ia melompatkan dirinya ke samping, sambil melemparkan burung garuda ke atas. Braaakkkk..burung garuda itu membentur atap bangunan.

Chen tiba-tiba telah ada di suatu tempat, di belakang penyerang lain, yang menembakkan panahnya tadi. Penyerang itu setelah melihat Chen langsung menyerang ke arah chen dengan sebuah belati. Chen hanya mundur, dan setiap serangan belati tadi seperti hanya melewati
tubuh Chen saja. Yak..tentu saja. Karena yang diserang hanyalah bayangan astral Chen. Bukan Chen yang asli. Dari tadi, yang muncul adalah bayangan astral Chen. Karena Chen hanya bisa menampilkan bayangan astralnya untuk mengacaukan perhatian lawan, bukan menyerang lawan. Ia berusaha memancing penyerang-penyerang keluar, supaya si Butut dapat menyerang mereka. Sedangkan dia sendiri, setelah sebelumnya tadi membuka pintu, ia tetap di luar bangunan.

Kebetulan, akhirnya penyerang yang lain itu berhasil dipancing keluar. Ia memakai kostum garuda, dengan sayap di punggungnya, berusaha mengejar bayangan Chen dan menyabetkan belatinya.
Tapi tiba-tiba rambut si Butut menangkap kaki burung garuda itu dan menariknya. Ia kaget, dan berusaha menyabetkan belatinya ke rambut yang melilit kakinya. Tapi rambut itu sangat kuat, tak mempan disabet oleh belati. Di sisi lain, rambut si Butut juga men
yabet leher burung garuda yang lebih besar tadi, lalu melemparkannya sekali lagi ke lantai. Gubraakkk.. beberapa bagian dari burung garuda mulai patah, dan sepertinya ia tak bisa bergerak lagi..

Lalu Si Butut dengan rambutnya lagi berusaha membelit tangan dan kaki penyerang dengan belati tadi. Si Butut melihat sosok penyerang dengan belati tersebut adalah perempuan. Ia memakai topeng. Tapi si Butut tahu, dari sosok tubuh itu, itu pasti harum.

“Harum..harum kah?? Kenapa kau lakukan ini?” Kata si Butut.

Harum mengenali suara itu.

“Kamu…si Butut..adalah kamu ???”

Si Butut membuka topengnya.

“Ini aku, harum..apa-apaan ini? Kenapa kau lakukan ini?”

Harum tampak kebingungan. Ia kelihatan gelisah..Lalu dengan cepat tangannya bergerak, melemparkan beberapa pisau ke si butut, lalu dengan cepat pula melemparkan beberapa pisau lain ke segala arah…

Untung si Butut waspada. Pisau yang dilemparkan ke dia terhalang oleh rambut si Butut yang dibentuknya menjadi perisai.

“Hati-hati, ia melempar pisau terbang yang berbelokk!!” Suara ini adalah suara Chen yang berteriak.

Ternyata pisau yang dilemparkan ke segala arah, itu bukan pisau terbang biasa, melainkan semacam bumerang kecil yang didesain khusus, sehingga setelah dilempar ia membentuk lintasan yang memutar, dan dengan cepat dan tepat, pisau-pisau itu menuju ke si Butut.

“Hati-hati, si Butut!” Seru Chen si Chenayang lagi dari suatu tempat.

Si Butut tak menduga serangan tersebut, pisau-pisau dari beberapa sudut menuju dengan deras ke arah Si Butut. Ia langsung melingkupi seluruh tubuhnya dengan rambutnya yang dibuatnya mengeras sebagai perisai.

Trang! Trang! Trang! Trang! Trang! Trang! Trang! Trang! Trang! Trang! Trang! Trang! Trang! Trang! Trang! Trang! Trang! Trang!Trang! Trang! Trang! Trang! Trang! Trang! Trang! Trang! Trang!Trang! Trang! Trang! Trang! Trang! Trang! Trang! Trang! Trang!Trang! Trang! Trang! Trang! Trang! Trang! Trang! Trang! Trang!Trang! Trang! Trang! Trang! Trang! Trang! Trang! Trang! Trang!Trang! Trang! Trang! Trang! Trang! Trang! Trang! Trang! Trang!Trang! Trang! Trang! Trang! Trang! Trang! Trang! Trang! Trang!

Beberapa pisau terbang dari segala arah berusaha menembus rambut si Butut. Tapi rambut si Butut benar-benar perisai yang sempurna.

Setelah pisau yang terakhir, si Butut membuka perisainya, dan melihat Harum melesat pergi melayang dengan sayapnya, dan membawa Gunawan. Harum dan Gunawan berhasil kabur melalui pintu besar bangunan tersebut.

“Mereka telah kabur.” Kali ini tubuh Chen yang asli masuk melalui pintu besar, ia melihat si Butut. Hanya terdiam dengan pandangan mata yang terbelalak, dan mulut yang sedikit melongo.

“Aku bisa mendeteksi keberadaan mereka, tapi jika mereka sangat jauh, aku tak akan bisa..” Kata Chen sambil ia mengapitkan kedua telapak tangannya seperti pertapa, lalu berlutut, ia mengonsentrasikan pikirannya, mencari Harum dan Gunawan. “Hppppp…..” Chen tampak mengelurkan banyak energi, keringat deras bercucuran dari dahinya.

“Aku…uuuh…aku terlalu lelah..bayangan mereka makin kabur..” Kata Chen.

Si Butut menepuk pundah Chen. “Sudahlah…lepaskan mereka..” Kata si Butut.

“Apa? Melepaskan mereka??” Kata Chen.

“Kita telah menyelamatkan pak walikota..” Kata si Butut lagi…

Bersambung lagi ya..ke Kisah Mutan 11..

Kisah Mutan 9

Posted in Uncategorized on August 7, 2011 by Lou

Tetap Flashback..

Si Butut, Si Textil, dan Dewi Geboi telah sampai ke tempat ke sebuah bangunan tempat pak Wali disekap. Si Butut langsung mengenali tempat itu. Ini tempat tinggal Harum dan Gunawan. Kenapa di sini? Pikir Si Butut..

Pelan-pelan, mengendap-endap, Si Butut, Si Textil, dan Dewi Geboi masuk ke dalam bangunan itu. Mereka memasuki suatu area yang luas, tempat dimana dulu Si Butut membuat burung garuda untuk karnaval. Burung Garuda itu adalah milik Harum dan Gunawan. Dan burung garuda itu telah menculik pak wali. Si Butut jadi deg-deg an. Ini burung Garuda, lambang negara, tapi dibuat untuk melakukan penculikan. Kalo ini dibuat jadi film, kayaknya bisa dicekal.

Sepi sekali di ruangan itu. Ketiga superhero menaiki sebuah tangga, menuju lantai dua. Dengan pelan-pelan, berusaha tidak membikin suara. Sampai di lantai dua, ada sebuah pintu. Si Textil berusaha membuka pintu itu dengan kekuatannya. Tapi tidak bisa. Karena kuncinya terbuat dari besi. Dewi Geboi mengambil jepit rambut dari rambutnya. Lalu mengorek2 lubang kunci, dan terbukalah pintu itu. Di dalam ruangan itu ada semacam sel kecil, dengan pak walikota di dalam sel itu. Ia pingsan.

“Kita harus menyelematkan pak wali” kata si butut.

Tapi sel itu terkunci sangat kuat. Textil gak bisa membukanya. Demikian pula si Butut. Trang-trang..Dewi Geboi berusaha memukul-mukulkan besi yang ditemukannya ke sel itu. Berharap akan membengkokkan jeruji. Tapi sia-sia. Sibutut berusaha membuka jeruji dengan rambutnya, pelan-pelan besi itu mulai bengkok..tapi..

Tiba-tiba…

Terdengar suara orang berteriak di belakang mereka.

“Hiyaaaaa!!” Suara itu adalah suara dari seorang yang berbadan bulat pendek, membawa sebuah senapan. Ia menembakkan senapannya..dor! dor! dor!

Si butut terkejut, ia menoleh ke belakang dan melihat Gunawan, abang Harum, menembakkan senapannya. Si Textil yang berada paling belakang bersimbah darah.

“Text!!! Teriak Si Butut sambil memanjangkan rambutnya melindungi textil dari peluru senapannya Gunawan. Sementara Dewi Geboy melompat ke atas,berputar, menjejakkan kakinya ke langit-langit lalu meluncur ke arah gunawan. Gunawan terlambat bergerak, tangan Dewi Geboy yang mengepal memukul kedua pundak Gunawan. Brug!! Gunawan terjengkang.

“Arrggghh!” Gunawan menjerit kesakitan.

Lalu tiba-tiba ada 3 buah busur panah entah dari mana meluncur ke arah kepala dewi Geboy..Dewi Geboy dengan sigap menundukkan kepalanya..sssttt..busur panah itu meluncur melewati atas kepala dewi geboy. Kemudian Dewi geboy langsung meloncat ke arah luar ruangan, mencari siapa yang menembakkan busur panah tersebut.

Sementara itu, si textil yang terkena tembak di dada atasnya mengerang kesakitan dalam pelukan si butut. Si butut berusaha menutup luka si textil dengan kain sobekan bajunya.

“Bertahanlah tex!” kata si Butut.

Dewi Geboy keluar, dan tidak menemukan siapapun.

Si Butut berusaha menelpon ke markas mutan Indonesia. Meminta bantuan. Tapi..tidak ada sinyal!

“Arrrggghhh!!! Mana yang katanya jangkauan sinyalnya seluruh Indonesia???”
Teriak Dewi Geboy kesal.

Kemudian tiba-tiba Gunawan berlari keluar dari ruangan. Dewi Geboy kaget, “Hey! Berhenti!” Ia mengejar Gunawan, tapi langkahnya terhenti karena ia merasakan ada lagi busur panah yang mengarah ke dirinya. Dewi Geboy menghindar..uff..nyaris! Untung busur panah tersebut mampu dihindari Dewi Geboy. Tapi akibatnya, Gunawan dapat lepas dari kejaran Dewi Geoby. Gunawan berlari ke suatu ruangan yang lain.

Si Butut memanggil Dewi Geboy, meminta bantuan untuk menyelamatkan Si Textil.
“Biar aku yang mengejar mereka”, kata si Butut.

Si Butut sangat penasaran, jika yang tadi adalah Gunawan, maka siapa orang satunya lagi? Harum? Ia sangat penasaran ingin tahu. Ia keluar dari ruangan, lalu berteriak..”Gunawan! Tunjukkan dirimu, kenapa kamu melakukan ini semua??”

Apa gerangan yang akan terjadi selanjutnya? Tunggu ya..Kisah Mutan 10!

Lomba Web & Blog untuk Guru dan Siswa

Posted in Uncategorized on March 9, 2009 by Lou

Info nih, buat semuanya: Lomba web dan blog untuk guru dan siswa, bisa dilihat di http://www.pasuruan-webstore.com. Kalau mau ikutan, lihat saja alamat web tersebut!

Kisah Mutan 8

Posted in kisah mutan with tags on November 17, 2008 by Lou

“Si Butut! Bagaimana ini? Kita tak boleh kehilangan dia!” Ujar si Textil.

“Kita harus cari si Chen..” Si Butut mengeluarkan cell phonenya, dan mencoba menghubungi si Chen.

Tu la lit tu la lit…tu la lit tu la lit..nomor yang anda tuju sedang tidak aktif . . atau di luar jaringan..

“Kok gak nyambung, yah???” Kata si Butut kesal.

“Eh, si Chen kan nomornya ganti?” Sela Joe si Peluru Tulang. Lalu membuka cell phone nya dan menunjukkan nomer si Chen kepada si Butut, “Nih nomernya..”

Si Butut menekan nomernya, dan mulai menelpon.

Tu la lit tu la lit…maaf..nomor yang anda tuju..sedang tidak aktif..atau di luar jaringan..dan tidak akan keluar di togel..

“Buset!! Kok gak bisa juga??” Si Butut makin kesal.

“O ya! Lusa kemarin dia kasih aku nomor baru..biar aku aja yang telpon..” Ujar Dewi Geboi. Ia mulai menelpon si Chen.

“Huuuh..kok dia sering ganti nomer sih??” Kata si Butut.

“Yah..biasalah..tiap ada operator yang nawarin harga murah, dia langsung ganti kartu.” Jawab Joe si Peluru Tulang.

Dewi Geboi berhasil menghubungi Chen si Cenayang.

“Hei! Emergency! Hubungi kami dengan kekuatanmu! Cepat!” Teriak si Dewi Geboi singkat, lalu memutuskan telponnya.

Si Textil heran, “loh, kok cuman gitu aja?”

“Santai, dia kan punya kekuatan, dia aja hubungi kita. Telpon lama-lama mahal maan…” Jawab Dewi Geboi.

Tak lama kemudian..muncul bayangan si Chen di hadapan mereka. Ia memang sudah bisa memunculkan bayangan dirinya ke lain tempat, seperti tubuh astral gitulah. Lalu orang bisa berkomunikasi melalui tubuh astralnya itu.

“Hoi…Chen yang kuul dah ada di sini..whuss up yo!” Kata si Chen.

“Pak walikota diculik. Sama burung garuda! Kau harus cari dimana ia hinggap!” Seru si Butut cepat.

“Pak wali diculik? Burung garuda??” Si Chen bingung karena gak tau apa-apa.

“Pokoknya kamu harus cari burung garuda besar yang telah membawa pak wali. Cepat! Pak wali dalam bahaya!” Seru di Butut lagi.

“Oh..oke deh..tunggu ya!”

Bayangan Chen si Cenayang lenyap. Di lain tempat, Chen berusaha memusatkan konsentrasinya, mencari lokasi di mana burung garuda membawa pak walikota.

Tak lama kemudian, bayangan Chen muncul lagi di hadapan si Butut dan kawan-kawan.

“Pak wali ada di sebuah sel besi..disekap..burung garudanya baru saja pergi…” Lalu si Chen memberi tahu lokasi pak wali.

“Ok! Kamu harus siap-siap dihubungi lagi, jangan matikan hpmu!” Si Butut memberi perintah.

“Siap boss!” Kata si Chen..lalu bayangannya lenyap lagi.

Dewi Geboi cepat berujar, “kita harus segera ke sana, si Chen bilang, burung garudanya lagi pergi..”

“Yak! Textil, kamu bisa cari sesuatu untuk terbang?” Kata si Butut.

“Hm..aku perlu permadani yang agak padat supaya bisa menerbangkan kita semua..” jawab si Textil.

Bagaimana kelanjutan kisah mutan ini? Jangan lewatkan Kisah Mutan 9! Hanya di www.sibutut.wordpress.com

Kisah Mutan 7

Posted in kisah mutan on November 17, 2008 by Lou

….bukan flash back….

“kenangan ini..
tak pernah mati..
ku tak sesali..
ku tak mau buang pergi..”

(suara radio, judul lagu: “Still”, dinyanyikan oleh Lionel Richie:
“baby…
morning just a moment away..
and i’m without you once again..”)

“biarlah ku hidup
dengan kenangan ini..
meski kini kau telah pergi
tinggalkan pedih
tak terperi..”

(“you laughed at me..
you said you’ve never needed me..
i wonder if you need me now..”)

“ku tak lagi peduli
dengan diri sendiri..
ku tak harap kau kembali..
biarkan hidupku mati..”

(“so many dreams that flew away
so many words we didn’t say..
two people lost in a storm
where did we go..where’d we go?”)

“hanya..kuingin melihatmu..
untuk yang terakhir kali..
kan kusimpan senyum manismu..
dalam bilik relung hati..”

(“the lost..what we both have found..
you know we let each other down..
but then most of all..i do love you..
Still…”)

“Dan maafkan yang tlah terjadi..
sudah tak bisa diperbaiki..
semuanya telah jadi mimpi..
semuanya telah menguap pergi..”

(“we played a game that people play
we made our mistakes along the way..”)
“Hatiku mendoakanmu..
disepanjang langkah-langkahku
Rinduku takkan terobati..
biar sajalah begini…”

(“somehow i know deep in my heart
you needed me..
cause i needed you..so desperately..
we were too blind to see…”)

“Pergilah dengan sayapmu
raihlah harapan sucimu..
ku kan tersenyum dari jauh..
hanya tersenyum dari jauh..”

(“but then most of all..
i do love you..still..”)

Pagi hari di bulan November..Si Butut duduk lemas di tepi kasurnya. Rambutnya terurai panjang dan kusut. Kepalanya tertunduk dalam. Matanya terpejam. Setetes air mata jatuh ke atas pangkuannya…

Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya pelan-pelan.

Ia berbisik lirih..

“Ku tak ingin melepasmu…ku tak mampu…” Suaranya gemetar.

Sambil terisak, ia menarik napas dalam-dalam sekali lagi.

“Tapi kamu udah menjauhiku..”

Ia diam sejenak, dan berbisik lagi.

“Pergilah..mungkin ini yang terbaik buat kita berdua..Pergilah…!”

—- flash back lagi.. ke saat pengumuman pemenang karnaval, bulan Agustus —–

Patung burung garuda itu bergerak layaknya hidup. Sambil terbang rendah, kakinya mencengkeram tubuh pak walikota. Kepak sayapnya menyebabkan angin bertiup sangat kencang. Beberapa petugas keamanan datang, menembaki burung garuda itu, dengan berusaha tidak mengenai pak walikota tentunya. Namun, peluru-peluru itu hanya terpantul, burung garuda itu tahan peluru.

“Tahan tembakan! Tahan Tembakan!” Teriak salah seorang pimpinan petugas keamanan, tampaknya ia melihat peluru memantul ke arah penonton, untungnya tak ada yang kena.

Seperti ada pengeras suara dari burung garuda, terdengar suara tawa. “Ha ha ha ha! Inilah balasannya! Inilah balasannya! Inilah awal dari pembangunan Kota!!! Ha ha ha ha ha..!!”

Si Textil muncul melayang di atas kain permadaninya, bersama Joe si Peluru Tulang, dan Dewi Geboi. Mereka semua telah mengenakan topeng yang menyembunyikan wajah.

“Lepaskan pak wali!!” Dewi Geboi berteriak sambil menunjuk ke arah burung garuda itu.

Burung garuda itu mengepakkan sayapnya lebih keras, lalu melesat ke angkasa.

“Woooooaaaaaaaaaaaaadddooooowwww biiyyuuuungg…!!!” pak wali jadi berteriak ketakutan.

Terlihat Si Butut sudah tergantung pada burung garuda. Rambut mautnya ternyata telah membelit ekor burung garuda yang terbang makin tinggi itu. Tapi tiba-tiba, dari belakang burung garuda melesat beberapa anak panah ke arah si Butut.

ssssuuup! ssssupp! sssuuuuppp!!!

Si Butut membentuk perisai dari rambut mautnya, panah terpental. Tapi akibatnya belitan rambutnya kendor dan ia terlepas. Si Butut terjatuh!

Untunglah ada si Textil, dengan permadani terbangnya menerima tubuh si Butut.

“Kejar! Kita harus membuatnya turun!” Teriak si Butut.

Permadani terbang melesat mengejar burung garuda. Terjadi manuver-manuver udara yang mencekam. Rambut si Butut berkibar-kibar berusaha menjangkau burung garuda. Namun burung garuda itu bisa menghindar. Joe si Peluru Tulang kadang menembak ke arah burung garuda itu, namun ia tak bisa leluasa, karena takut terkena pak walikota.
Si Textil menfokuskan diri mengendalikan permadaninya.

Di tengah keadaan yang sangat sulit itu, tiba-tiba burung garuda terbang ke atas, lalu memutar, berbalik ke bawah, dan dari mulutnya keluar api, mengarah ke arah teman-teman mutan kita..wuuuussshhh !!

“Woaaaawww!!!”

Dengan cepat rambut si Butut membentuk perlindungan, melingkupi dirinya dan teman-temannya. Teman-teman mutan kita terlindung dari kobaran api, namun panasnya tetap terasa menyengat tubuh mereka.

Tapi, tepi permadani terbakar terkena api!

“Wadoh! Apa yang harus kita lakukan?” Seru Dewi Geboi, ia dan Joe menepuk-nepuk api itu, berusaha memadamkannya.

Wuuuuuusssssssshhhhhhh!!!!

Sekali lagi api menyambar ke arah si Butut dan teman-temannya.

Si Butut melingkupkan rambutnya lagi supaya terlindung. Sebenarnya Si Butut ingin melindungi permadaninya juga, tapi serangan burung garuda terlalu cepat, sehingga ia tak sempat. Dan jilatan api masih terkena tepi permadani, api jadi makin besar.

“Gawat! Kita harus turun nih!” Si Textil panik.

“Baik! Kita turun dulu!” kata si Butut.

Permadani terbang melesat turun ke tanah. Si Butut dan teman-temannya selamat. Namun api berkobar menghanguskan permadani terbang.

“Kau tak bisa mengendalikan burung garuda itu, Textil? Ada kayu di situ,” tanya si Butut sambil terengah-engah.

“Aku tadi sudah coba, tapi tak bisa. Ada kekuatan lain yang mengendalikan burung garuda itu!” Jawab si Textil.

“Dia menangkap pak Wali. Apa maunya sih?” Kata Joe si Peluru Tulang.

Dewi Geboi terlihat geram. Tangannya terkepal sangat rapat, memandang tajam ke burung garuda yang terbang meliuk-liuk di angkasa, seolah-olah merayakan kemenangannya…

Si Butut meninju telapak tangannya sendiri. Ia sangat kesal.

Bagaimana kisah si Butut selanjutnya? Baca “Kisah Mutan 8” hanya di www.sibutut.wordpress.com

Kisah Mutan 6

Posted in kisah mutan with tags , , , on August 20, 2008 by Lou

kisah mutan 6

Hujan turun..rintik-rintik..dan berangsur-angsur makin deras. Harum memandang si Butut, menunggu jawaban..

Muka si Butut memerah. Ia salah tingkah, dan menghela napas panjang. Ia menoleh ke arah Harum sebentar, tersenyum..dan..

“ya..sebab..matamu begitu cerah..Jadi kalo cuaca juga cerah..kan cocok,” kata si Butut sekenanya.

Harum menaikkan alis matanya.

“Ha ha..! ha ha ha ha..!” si Butut tertawa konyol, berharap Harum mau menerima lawakannya yang sangat gak lucu barusan.

Kemudian..Harum pun turut tersenyum..

~~~
ucapkanlah kasih
satu kata yang kunantikan
sebab kutak mampu membaca matamu
mendengar bisikmu

nyanyikanlah kasih
senandung kata hatimu
sebab kutak sanggup
mengartikan getar ini
sebab ku meragu pada dirimu
 
mengapa berat ungkapkan cinta
padahal ia ada
dalam rinai hujan
dalam terang bulan
juga dalam sedu sedan

mengapa sulit mengaku cinta
padahal yang terasa
dalam rindu dendam
hening malam
cinta terasa ada
~~~

Hari karnaval!

Mobil-mobil karnaval telah berjajar rapi, berjalan pelan, di sepanjang jalan. Warga kota Malang menonton dengan sangat antusias di tepi-tepi jalan.

Mobil karnaval teman-teman mutan kita mirip seperti panggung boneka. Dengan bentuk seperti kota tempo doeloe yang hancur karena perang, dan boneka-boneka yang bergerak-gerak dan bersuara, menampilkan adegan-adegan perang kemerdekaan. Boneka-boneka itu digerakkan oleh teman-teman kita di bawah panggung. Tak terlihat oleh penonton.

Mobil karnaval yang disopiri si Butut, alias mobil karnaval milik Gunawan dan adiknya, Harum, berbentuk burung garuda yang besar, yang bertengger di atas mobil dengan gagah. Sebenarnya, akan lebih sempurna seandainya burung itu bisa bergerak. Namun matanya yang merah menyala-nyala, serta suara burung garuda dari sound system, setidaknya membuat burung garuda itu jadi seperti hidup.

Si Butut menyetir sendirian di dalam mobil. Sedangkan Harum di belakang, di dekat burung garuda, berpakaian seperti pejuang kemerdekaan, yang mempertahankan lambang negara. Ia membacakan puisi melalui pengeras suara. Sedangkan si Gunawan, entahlah, dari tadi tidak kelihatan..

Sangat meriah! Lomba mobil karnaval ini diikuti oleh banyak peserta yang sangat kreatif, yang menghiasi mobil mereka dengan berbagai tema kemerdekaan dan indonesia.

Chen, salah satu teman mutan kita, berada di antara penonton, mengambil satu persatu foto mobil karnaval yang lewat di depannya. Tapi tidak hanya itu, ia juga mengambil foto orang-orang yang menarik perhatiannya, terutama cewek-cewek Malang yang cantik-cantik, ia ambil gambarnya secara diam-diam. Yah, maklum lah, mutan yang satu ini emang playboy.

Sore hendak berakhir. Semua mobil karnaval satu persatu memasuki finish, dan mereka parkir di tempat yang disediakan, di dalam dan luar stadion gajayana. Mereka telah dinilai dari start sampai finish, penampilan mereka, bentuk mobil hias mereka, dan lain-lainnya. Ada tim penilainya. Dan Pengumuman pemenangnya pun akan diumumkan hari ini juga di sebuah panggung.

Reporter tivi-tivi lokal dan nasional ramai meliput acara ini. Perhatian semua orang sekarang telah tertuju ke sebuah panggung, dimana akan dibacakan siapa yang akan menjadi pemenang lomba mobil hias karnaval. Pak Walikota telah berdiri di atas panggung, dan akan segera membacakan hasil penjurian, sekaligus akan menyerahkan hadiahnya secara simbolis.

“Baiklah bapak-bapak, ibu-ibu, mas-mas, mbak-mbak, adik-adik, yang telah memilih saya sebagai walikota, I love you, maupun yang tidak memilih saya, I love you too..seperti yang telah kita tahu, Malang, sebagai kota Bunga yang tak ada bunganya…bla bla..bla bla..bla bla..”

Semua orang mendengarkan pidato pak Wali dengan harap-harap cemas. Tentu saja mereka sudah tak sabar untuk mengetahui siapa yang menjadi juaranya. Suasana hening..Burung-burung berhenti berkicau, angin berhenti bertiup..dan semua orang pun menahan kentut…satu-satunya suara yang berkumandang adalah suara pak Wali yang sedang mengutarakan isi hatinya..

Dan tak lama kemudian..tibalah saatnya dibacakan pemenang dari lomba hias mobil karnaval yang heboh ini…

“Pemenangnya adalah…peserta nomor….”

dung dung dung dung dung dung dung dung…!! Bunyi genderam..

“Setelah iklan-iklan yang berikut ini!!”

Huuuuuuuu !!! Para penonton bersorak penuh kecewa. Tapi seakan tidak peduli dengan teriakan penonton, muncullah beberapa orang dari salah satu produk operator seluler ke atas panggung, mereka bergantian membeberkan kelebihan produknya..

“bla bla bla bla…”, kata salah seorang yang mempromosikan produknya.

“Alaah..paling juga antar sesama!” celetuk salah seorang penonton.

“Eit! Bla bla bla..bla bla bla!” Jawab salah seorang yang mempromosikan produknya. Sambil seorang yang lain membuka lembaran kertas bertuliskan “Syarat dan Ketentuan Berlaku”, dan dibawahnya ada tanda bintang, dengan tulisan yang lebih kecil.

“Alaaah…paling juga pada jam tidur!” celetuk salah seorang penonton lagi.

“Eit! Bla bla bla..bla bla bla..! Jawab salah seorang yang mempromosikan produknya lagi. Seorang yang lain tetap membuka lembaran kertas yang tadi.

“Hei! Tunggu!! Itu tulisannya kok kecil sekali? Bacain dong!” Teriak salah seorang penonton lagi.

“Eit! Maaf ya! Kita terbatas durasi, jadi gak bisa bacain. Dan lembaran kertasnya juga gak bisa besar, soalnya akan sulit bawanya kalau besar. Jadi huruf-hurufnya ya menyesuaikan dengan kertasnya dong..segini…bisa dibaca kok..!” Kata salah seorang di panggung.

“Mana bisa dibaca! Wong kecil-kecil gitu!” Seru penonton di belakang.

“Eit! Jangan malas dong, maju sini kek, pasti bisa baca!” Jawab seorang di panggung lagi.

Dan berakhirlah acara iklan di atas panggung, dengan meninggalkan rasa penasaran pada penontonnya..

Pak Walikota maju lagi di atas panggung. “Baiklah, sekarang saatnya diumumkan, siapa yang akan menjadi pemenang dari lomba mobil hias karnaval kali ini!!”

Penonton diam lagi. Mereka menunggu..

“Juara 3 adalah…..”

Dum dum dum dum dum..! Bunyi genderang lagi.

“…Nomor 153!!!”

Horeeeeee!! Para penonton berteriak dan bertepuk tangan.

“Dan juara 2 adalah…”

Bunyi genderang lagi..

“..Nomor 28!!!”

Yihuuuuuu! Penonton berseru lagi sambil bertepuk tangan.

“Daaaan..juara satuuuuu…adalah…!”

Para penonton menahan napas..bahkan ada juga yang menutup hidungnya karena baru saja ada suara misterius!

“Nomooor…..246!!!

Horeeeeeee!!! Para penonton bersorak, dan bertepuk tangan. Sementara beberapa dari mereka ada juga yang mengeluarkan pena dan kertas, mencatat nomor-nomor yang muncul tadi. Barangkali mau dibuat taruhan!

Si Butut ada di mobil sendirian, karena tadi si Harum pergi, dan bilangnya mau beli es degan.

“Ah, mobil hias ini gak menang, dan mobil hias teman-teman juga gak menang..” Pikirnya. Ia keliatan kecewa.

Tiba-tiba Si Butut terloncat kaget! Karena tiba-tiba patung burung garuda di belakang mobilnya bergerak lalu melesat terbang!!

“Eh??? Ada apa??” Seru Si Butut. Ia keluar dari mobil. Ia melihat burung garuda tadi terbang meluncur ke arah panggung. Dengan cepat burung itu menyambar pak Walikota,dan kakinya mencengkeram pak Wali dan membawanya terbang..

Mata Si Butut terbelalak. Semua kejadian tadi berlangsung sangat cepat. Sesaat ia seperti tak bisa bergerak..semua orang di sekeliling pun terhenyak..

Apa yang terjadi???? Apa yang terjadi ????

Bersambung ke Kisah Mutan 7..

Kisah Mutan 5

Posted in kisah mutan on May 23, 2008 by Lou

(still flashback)

Begitu cepat hari-hari berlalu, sering kita tak menyadarinya. Tinggal beberapa hari lagi, karnaval akan segera dilaksanakan.

Dan dalam masa yang terlalu singkat itu bagaimanapun juga telah menjalinkan sebuah kisah asmara dalam hati dua manusia. Bagaikan lagu yang mengalun merdu dan meresap ke dalam pori-pori tubuh hingga menembus ke dalam qalbu, ia menyisakan jiwa yang kan selalu merindu…di sana….

Saat itu sore hari. Mobil karnaval teman-teman mutan kita telah selesai dibuat, dan disimpan di dalam garasi. Mereka telah siap ikutan karnaval.

Dewi Geboi, Chen si Cenayang, dan Joe si Peluru tulang sedang memasak di dapur sambil bergosip mengenai si Butut dan cewek incarannya yang belakangan diketahui bernama Harum.

“Yah..Tapi hidup itu seringkali dipenuhi dengan paradox dan ironi..” Begitu kata Joe si Peluru Tulang kepada Dewi Geboi dan Chen si Cenayang.

“Paradoks?..macaroni? Apaan maksudnya?” Tanya Dewi Geboi.

“Paradox…ironi…” Chen menyahut, “kayaknya pernah dengar deh di pelajaran bahasa indonesia..yang artinya..ehm…adalah…ehm..yaitu…ehm…”

“Kelamaan!!!! Bilang aja lupa!” Sela Dewi Geboi

“Yah..kayaknya…itu adalah hukum yang berlaku di dunia ini..” Jawab Joe si Peluru Tulang pelan.

“Walah..pusing deh aku..ngomong yang jelas-jelas aja deh” Si Dewi bingung.

“Begini,” Kata Joe, “sering kan kita memergoki Si Butut dan Harum sedang bersama-sama. Di Mall, di pameran, di bioskop, dan terakhir kita lihat mereka sedang berfoto bersama di alun-alun.”

“Yah..lalu?” Dewi Geboi masih terlihat bingung.

“Kau lihat mereka? Kau lihat mata mereka?” Kata Joe kemudian.

“Aku sih lihat Harum doang..dia emang cantik..hm..agak sedih juga si Butut yang tahu duluan..” Kata Chen.

“Eh…emang..di mata mereka ada apanya sih?” Dewi Geboi masih keliatan bingung.

“Maksudku..kau lihat kan..bahwa mereka saling suka?” ujar Joe.

“Yaaaah..gitu aja kok pake paradokter..si roni..mbulet baaaanget!” Sergah Dewi Geboi.

“Oooh…paradox dan ironi itu pasti nama dua orang yang saling mencinta dalam suatu drama romantis dari Inggris.” Kata si Chen yang sipit itu.

“Nguawur puol!!” Jawab si Joe. “Yah..Beginilah pemuda generasi masa depan bangsa kita. Paradox ironi aja gak tahu!”

“Nih…biar kujelaskan lewat lagu..!” Kata Joe sambil kemudian menyanyikan lagu burung camar yang dikarang oleh Abah Iwan dan dipopulerkan oleh Vina Panduwinata itu.

—————-
Burung camar
tinggi melayang
bersahutan dibalik awan
membawa angan-anganku jauh meniti buih
lalu hilang dalam kekalutan

kubahagia tiada terperi
indah nian jerat jiwaku
tak kenal duka derita
tak kenal nestapa
ceria penuh pesona

tiba-tiba ku tertegun
lubuk hatiku tersentuh
perahu kecil terayun
nelayan tua di sana
tiga malam bulan tlah menghilang
langit sepi walau tak bermega

tiba-tiba kusadari lagu burung camar tadi
cuma kisah sedih nada duka
hati yang terluka
tiada teman berbagi derita
bahkan untuk berbagi cerita

Burung camar
tinggi melayang
bersahutan dibalik awan
kini membawa anganku yang tadi melayang
jatuh ia dekat di kakiku

tiba-tiba kusadari lagu burung camar tadi
cuma kisah sedih nada duka
hati yang terluka
tiada teman berbagi derita
bahkan untuk berbagi cerita

Burung camar
tinggi melayang
bersahutan dibalik awan
kini membawa anganku yang tadi melayang
jatuh ia dekat di kakiku

Burung camar
tinggi melayang
bersahutan dibalik awan
kini membawa anganku yang tadi melayang
jatuh ia dekat….
jatuh ia dekat di kakiku..

—–

Sementara itu, di sisi lain di kota Malang, si Butut sedang mengagumi mobil karnaval yang ada di depannya. Di atas mobil karnaval itu bertengger burung garuda besar, terbuat dari bahan kayu, dan dilapisi logam. Keren. Dan bisa bergerak seandainya ada mesin yang menggerakkannya. Tapi kelihatannya burung garuda itu hanya akan di pasang di atas mobil truk yang juga dihias seperti bangunan-bangunan di kota.

Seperti telah diceritakan di cerita-cerita sebelumnya, Si Butut bekerja membantu orang lain membuat mobil karnaval, untuk lomba karnaval 17 agustusan. Orang yang dibantu itu bernama Gunawan. Gunawan menyewa 5 orang, termasuk si Butut, untuk membuat mobil karnaval beserta garuda besar tadi. Gunawan bertubuh pendek, dan mengaku sebagai seniman. Bersama 5 orang yang disewanya, ia membuat mobil hias dan burung garuda tersebut..untuk dijadikan sebagai salah satu karya seninya! Jadi bukan semata-mata buat karnaval.

Harum, adalah adik Gunawan. Sudah beberapa hari ini kelihatannya Harum makin akrab dengan si Butut. Bagaimana itu bisa terjadi? Yah..tanya aja mereka sendiri!

Yang jelas..beginilah perasaan Harum saat pertama kali mengenal si Butut..eh..sebelumnya perlu dikasih tahu terlebih dulu, si butut adalah nama panggilan oleh teman-teman mutannya. Sedang kepada orang-orang lain, ia mengaku bernama Budi. Ia harus menyamar kan, supaya identitas mutannya tak terbongkar, yah..kan banyak MARMUT (Masyarakat Anti Mutan) di sekitar..

Yup, sekarang mari kita lihat perasaan Harum saat pertama kali mengenal si Budi..alias si Butut..

~~~~~~~
Cinta
(Vina Pandu Winata)

bergetar hatiku
saat ku berkenalan dengannya
ku dengar dia menyebutkan nama dirinya
sejak kubertemu
kutelah jatuh hati padanya

didalam hati telah menjelma cinta
dan bawalah daku selalu
dalam mimpimu
di langkahmu
serta hidupmu

genggamlah daku
kini juga nanti
harapan di hatiku
bawalah diriku selamanya

~~~~~

Nah! Benar kan, kalau Harum juga suka sama si Butut. Gimana sih kok Harum dan Si Butut bisa saling menyukai? Gimana sih kok bisa Romeo dan Juliet saling mencintai? Gimana sih Peter Parker bisa jatuh cinta ama Mary Jane? Clark Kent dengan Louis? Kenapa nggak Peter Parker dengan Louis, atau sebaliknya Clark Kent jatuh cinta ama Mary Jane? Darimana sih datangnya cinta? Wah! Meneketehe!

Yang jelas, itulah yang terjadi antara si Butut dan Harum. Bahkan mereka telah berfoto bersama di alun-alun. Si Butut lalu mengedit foto itu dengan adobe photoshop supaya keliatan lebih cantik, lalu hasil print outnya diperbesar seukuran 7 inci. Gedhe banget kan? Harum yang seneng dengan hasil editannya si Butut memasang foto itu di dinding kamarnya, buat kenang-kenangan katanya..

Hm…buat kenang-kenangan yah..tapi kenapa sekarang si Butut kelihatannya tak begitu senang?

Begini, beberapa hari lagi kan karnaval. Si Butut akan menyopiri mobil karnaval Gunawan. Soalnya saat itu cuma si Butut yang punya SIM. Nanti, sambil menjadi sopirnya, si Butut pun juga akan memakai kostum karnaval sebagai pelengkap hiasannya.

Tapi bukan itu masalahnya sih. Masalahnya setelah itu! Setelah karnaval berakhir..apakah si Butut akan bisa bertemu dengan Harum lagi? Gunawan dan Harum bilang, mereka bukan orang asli Malang. Datang ke Malang cuma ingin ikut memeriahkan karnaval, asyik katanya, selain jalan-jalan tentunya. Jadi setelah itu gimana dong? Akankah mereka tetap tinggal? Si Butut bertanya-tanya dalam hati..

“Kayaknya aku mesti mengungkapkan perasaanku ke Harum..” pikir Si Butut. “Haruskah..? Atau..biarkan nanti mengalir aja..?”

“DorRRR!”

Si Butut terhentak dari lamunannya. Ternyata Harum ada di belakang si Butut. Berteriak mengagetkan si Butut. Untung si Butut gak latah. Gak lucu dong kalau si Butut yang superhero itu latah.

“Ha ha..lagi ngelamun ya?” Kata Harum riang.

“Ah! Nggak kok. Aku lagi mengagumi burung garuda ini. Indah sekali.” Kata si Butut.

“Yup. Abangku memang seniman hebat.” Kata Harum. “Oh ya, kita pergi yuk, antar aku beli camilan, buat karnaval nanti.”

“oh..ok! Ayuk!” Jawab si Butut.

Singkat kata, mereka telah berada di dalam mobil. Di dalam mobil, Si Butut masih berpikir tentang apakah harus mengungkapkan perasaannya apa tidak.

“Gimana ya…” pikirnya. Sudah beberapa menit mereka di dalam mobil. Tapi mereka belum membuka percakapan. Harum sendiri malah membaca majalah yang dari tadi sudah ada di dalam mobil.

“Ehm…mbak Harum..hari ini cerah sekali yah!” Kata si Butut tiba-tiba.

Sambil melihat ke luar jendela, Harum menjawab, “Kayaknya agak mendung deh…”

Ting…………..

“O! iya!! Iya yah! He he he he..” Kata si Butut kemudian. Awan memang lagi mendung. Kenapa ia bilang hari ini cerah ya? Jelaslah kalau si Butut lagi grogi.

“Maksudku…bukankah akan lebih asik kalau hari ini cerah..” Si Butut ngomong lagi.

Aha..bisa aja si Butut!

“Emang kenapa?” kata si Harum sambil menoleh ke si Butut. Kedua mata yang indah itu memandang ke arah si Butut. Si Butut jadi makin grogi menerima tatapan mata yang berkilat-kilat cantik itu. Memang ada sesuatu yang beda di dalam mata si Harum. Bagi si Butut, itu adalah sesuatu yang sangat indah, yang sulit untuk dilupakan… dan sulit untuk diungkapkan keindahannya dengan kata-kata.

Si Butut tak berani menatap kedua mata Harum. Apalagi saat itu ia lagi nyetir mobil. Ia akhirnya menatap jauh ke depan. Dadanya berdegub kencang. Ia bingung mau berkata apa..bingung mau bagaimana menyikapi semua ini..Bingung harus bagaimana…

bersambung ke kisah Mutan 6

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.